Tampilkan postingan dengan label Artikel Sains. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Sains. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Agustus 2008

Seimolog dan Mitor Seputar Gempa

Oleh : Indra Yusuf
Setahun yang lalu tepatnya tanggal 17 Juli 2006 Kawasan Pantai Pangandaran Kabupaten Ciamis dan sekitarnya diguncang gempa berkekuatan 6,8 pada skala richter, gempa yang terjadi juga menyebabkan gelombang tsunami yang menerjang Pantai Selatan Jawa Barat seperti Cilauteureun-Kabupaten Garut, Cipatujah-Kabupaten Tasikmalaya, Pantai Selatan Cianjur dan Sukabumi. Bahkan, gelombang tsunami juga menerjang Pantai Cilacap dan Kebumen Jawa Tengah, serta Pantai Selatan Kabupaten Bantul Yogyakarta. Padahal lebih kurang dua bulan sebelumnya gempa juga telah mengguncang Kota Yogyakarta tepatnya pada tanggal 27 Mei 2006.
Dari kedua gempa yang selang waktunya tidak begitu lama tersebut menegaskan kembali kalau gempa bumi belum dapat diprediksi oleh para ahli gempa (seismolog) maupun ahli ilmu kebumian lainnya. Sehinga isu yang pernah beredar di masyarakat tentang akan terjadinya gempa besar pada tanggal 7 Juni yang lalu jelas merupakan kabar burung belaka. Gempa itu juga telah menggugah kesadaran bahwa memang kita berada dinegeri yang rawan bencana sehingga pantas disebut The Ring of Fire (lingkaran api). Sama seperti halnya negeri sakura yang dikenal dengan The Four Roses of Japan ( Empat bencana alam ; gempa-tsunami, gunung meletus, banjir dan angin taifun yang sering melanda negeri Jepang). Karena keduanya dilalui oleh deretan pegunungan lipatan muda Sirkum Pasifik.
Sementara pakar ilmu kebumian belum dapat berbuat banyak untuk mengungkapkan misteri kapan suatu bencana kebumian akan terjadi ? Khususnya gempa bumi tektonik. Mitos-mitos seputar gempa yang telah ada dan berkembang serta terjaga kelestariannya di dalam kehidupan masyarakat. Menyikapi mitos-mitos yang berkembang kita hanya perlu memaknainya sebagai kekayaan khasanah budaya kita. Jangan sampai menjadi pegangan sebagaimana masa dikala ilmu pengetahuan belum berkembang dan memaknai segala sesuatunya secara metafisik dan irasional.
Sejak terjadinya gempa di Aceh dan Sumatera Utara yang menimbulkan bencana mega tsunami pada tahun 2004, tidak saja para seismolog atau ilmuwan kebumian yang mengemukakan pendapat dan analisisnya yang berkaitan dengan terjadinya gempa bumi tetapi juga politikus, dan paranormal pun ikut mengemukakan soal gempa bahkan mereka lebih berani dengan memprediksikan bahwa akan terjadinya gempa yang lebih dahsyat di Wilayah Selat Sunda. Nanang T Puspito pakar gempa dari ITB menyebutnya mereka sebagai selebritis gempa dan tsunami.
Dalam sejarah peramalan gempa bumi, pernah terjadi ramalan yang dianggap berhasil yaitu ketika gempa di Haicheng – China. Gempa Haicheng terjadi pada tahun 1975 dengan kekuatan 7,3 skala richter. Mitigasi dilakukan sangat baik, peringatan evakuasi diputuskan pada hari sebelumnya terjadi gempa. Beberapa gejala yang dijadikan dasar adalah tampaknya perubahan pada tinggi muka airtanah . Kemudian banyaknya laporan mengenai perilaku aneh binatang dan juga banyaknya terjadi foreshock (gempa pendahuluan). Sehingga seiring dengan meningkatnya intensitas dan frekuensi foreshock pihak berwenang mengeluarkan peringatan evakuasi.
Sebagai manusia yang bijak tentu kita dapat memaknai segala bencana yang terjadi di alam ini, pasti memiliki pertanda dan maksud yang dapat kita tangkap tidak saja melalui kecerdasan intelegensi kita tapi juga melalui kecerdasan spritual (SQ) kita. Mitos-mitos yang berkaitan dengan gempa tidak saja muncul pada saat sekarang namun telah ada sejak dulu dan setiap wilayah yang pernah mengalami gempa akan menjaga kelestarian mitos tersebut secara turun menurun. Seorang filsuf yang bernama Aristoteles menyatakan bahwa kejadian gempa disebabkan oleh keluarnya udara yang terkandung dalam tanah. Di Mongolia pun berkembang mitos seputar gempa. Orang Mongolia percaya bahwa setelah bumi dibuat Tuhan meletakan bumi tersebut diatas pundak seekor katak yang sangat besar, apabila katak bergerak maka terjadilah gempa.
Di Indonesia sendiri berkembang beberapa mitos yang sampai saat ini masih melekat di masyarakat. Sebutlah masyarakat di Jawa Barat (Sunda), yang beranggapan bahwa sumber atau penyebab gempa (lini, Masyarakat Sunda menyebutnya) adalah sebuah batu yang terdapat di puncak gunung. Batu tersebut dapat bergerak dan gerakannya itu yang menimbulkan guncangan gempa bumi. Akan tetapi, si batu tidak mau bergerak selagi dimuka bumi ini masih ada mahluk yang namanya manusia. Pada saat tertentu semut hitam mendatangi batu yang menjadi sumber pusat gempa yang ada di puncak gunung dan memberikan laporan bahwa dimuka bumi sudah tidak ada lagi manusia. Akibat provokasi semut hitam itu, maka batu tadi bergerak sehingga terjadilah gempa. Bukti masih melekatnya mitos gempa tersebut di sebagian masyarakat sunda adalah ketika tejadi gempa mereka berteriak sekeras-kerasnya mengucapkan kata aya…, aya…, aya…, (yang artinya ada). Teriakan tersebut diharapkan terdengar oleh si batu yang terletak jauh di puncak gunung agar guncangan gempa segera berhenti. Hal ini juga yang terjadi di Pangandaran saat gempa mengguncang setahun yang lalu.
Demikian juga ketika gempa mengguncang Kota Yogyakarta, kembali berkembang mitos-mitos yang diyakini sebagian masyarakat. Mitos-mitos itu diantaranya sebelum terjadi gempa akan ditandai dengan munculnya awan tegak lurus di langit. Karena secara kebetulan awan tegak lurus muncul juga sesaat sebelum gempa bumi mengguncang Kota Kobe di Jepang pada tanggal 17 januari 1995. Fenomena atau mitos ini tidak ada salahnya jika ditidaklanjuti oleh para ahli seismologi ataupun meteorologi karena ada kemungkinan saling berkaitan. Mitos lainnya yang berkembang adalah ketika ikan lele gelisah sehingga naik kepermukaan, mayarakat jepang mempercayainya akan terjadi sebuah gempa bumi. Selain ikan lele burung camar ataupun gajah memiliki naluri yang tajam sehingga akan meninggalkan laut ketika gempa yang terjadi berpotensi menimbulkan tsunami.
Adanya suara gemerincing (tangisan dasar laut) sesaat sebelum terjadinya gempa yang menimbulkan tsunami di Yogyakarta, sebagaimana kesaksian warga yang tinggal di Parang Tritis. Bunyi tangisan tersebut sesungguhnya berasal dari gelombang bunyi yang disebut T-Phase ketika pusat gempa berada di dasar laut sehingga menyebabkan bunyi gemerincing yang ditafsirkan sebagi tangisan. Fenomena lain, munculnya jilatan api sebelum terjadinya gempa. Berdasarkan ahli dari BMG jilatan api yang terlihat masyarakat merupakan semacam aurora yang muncul di khatulistiwa, berasal dari segumpal awan yang terkena pantulan sinar matahari pagi mengingat gempa terjadi pada waktu pagi hari.
Sampai saat ini para seismolog belum ada yang mampu untuk meramalkan kapan waktu terjadinya gempa dan dimana lokasinya secara spesifik. Para ahli baru sebatas mengetahui tentang dimana gempa kemungkinan akan terjadi atau menentukan wilayah jalur gempa. Seismologi belum membahas pengetahuan untuk mengetahui hari, bulan dan tahun (siklus) terjadinya gempa pada suatu jalur gempa. Para ahli di dunia baru bisa menjelaskan pola spasial gempa-gempa besar di bumi serta prediksi mengenai lokasi dan beberapa gempa besar dimasa yang akan datang. Sebagian besar gempa-gempa berkekuatan besar terjadi pada zona-zona patahan sepanjang tepi Samudera Pasifik (sirkum Pasifik). Penyebab lain juga karena adanya desakan aktifitas lempeng tektonik di Samudera Atlantik.
Mengapa gempa belum bisa diprediksi karena sampai saat ini belum ada teknologi yang dapat mengukur stress (tekanan) dan strain (tegangan) batuan pada batun sedimen, apalagi posisi pusat gempa (hiposentrum) yang jaraknya berskala puluh hingga ratusan kilometer di dalam bumi. Stress adalah tekanan terhadap batuan dari segala arah. Sedangkan Strain adalah batuan yang sudah mengalami perubahan bentuk (terdeformasi). Karena jaraknya yang sangat jauh dikedalaman bumi sehingga sulit untuk menempatkan alat ukur guna mengukur stress dan strain batuan di lokasi pusat gempa. Namun para peneliti dunia yang tergabung dalam Integrated Ocean Drilling Program (IOPD) yang dimotori Japan Agency for Marine Earth Science and Technology (Jamstec) telah berupaya melakukan pengukuran stress dan strain batuan di daerah pusat gempa atau daerah seismogenic zone yang tergolong dangkal (Y.S Djajadihardja : 2007).
Diharapkan perkembangan seismologi dan metode penempatan alat ukur stress dan strain yang dilakukan Jamstech dapat dilaksanakan secepat mungkin sehingga suatu saat nanti seismolog dapat memprediksi kapan terjadinya gempa bumi. Dan mitigasi yang dilakukan dapat lebih bermanfaat karena adanya early warning system yang panjang waktunya dan informasi yang lebih akurat. Korban jiwa dan materi pun dapat di minimalisisr lebih maksimal lagi. Sehingga manusia akan semakin nyaman tinggal dibumi yang dinamis ini.

(Artikel ini telah dimuat di Harian Mitra Dialog Cirebon pada tanggal 18 Agustus 2007))

Selasa, 22 Juli 2008

Mengapa Terjadi Hujan Es ?


Oleh: Indra Yusuf
Beberapa waktu yang lalu adik-adik yang tinggal di Bandung dan daerah sekitarnya mungkin mengalami peristiwa hujan es. Bahkan diantara adik-adik mungkin ada yang sempat bermain-main dengan memunguti butiran es yang jatuh dari langit. Atau mungkin juga hujan es yang disertai angin kencang tersebut telah membuat atap rumah dan sekolahmu menjadi rusak atau bocor. Sehingga kegiatan belajar disekolah menjadi terganggu. Ternyata hujan es tidak hanya terjadi dibandung tapi juga terjadi di alami oleh adik-adik yang tinggal di daerah Bekasi dan Salatiga.
Tentu adik-adik juga bertanya-tanya mengapa bisa terjadi hujan es. Bukankah hujan yang turun biasanya berupa air tapi kali ini bukan, melainkan berupa butiran es yang besarnya lebih kecil dari ukuran kelereng atau sekitar satu sentimeter kubik. Menurut ilmu meteorologi dan klimatologi, yakni ilmu yang mempelajari cuaca dan iklim butiran-butiran es yang jatuh itu disebutnya hail stone.
Sementara bagi adik-adik yang duduk di SMP dan telah mempelajari ilmu itu melalui mata pelajaran geografi, tentu akan timbul pertanyaan mengapa di Indonesia yang mempunyai iklim tropis kok bisa terjadi hujan es? Padahal hujan es atau salju bukannya hanya terjadi pada wilayah yang mempunyai empat musim atau beriklim sedang dan subtropis ? Sedangkan wilayah Indonesia beriklim tropis. Hal itu juga sempat ditanyakan oleh Ferry Gunawan dan teman-temanya siswa-siswi SMP Negeri 11 Cirebon ketika melihat berita tentang kejadian hujan es di Bandung beberapa waktu lalu malalui layar televisi.
Sebetulnya hujan es berbeda dengan hujan salju. Es bentuknya merupakan butir-butiran yang lebih besar dari salju, karena salju merupakan kristal-kristal es yang sangat kecil. Kristal-kristal salju satu sama lain memiliki bentuk yang berbeda-beda seperti halnya dengan sidik jarimu. Salju pun terbentuk disebabkan oleh beberapa faktor. Selain karena faktor iklim salju jaga dapat terbentuk pada daerah yang memiliki ketinggian lebih dari 5000 meter diatas permukaan laut (dpl). Sebagai contoh walaupun berada di iklim tropis namun Puncak Jayawijaya di Papua memiliki salju abadi.
Sementara hujan es merupakan kejadian yang biasa sekalipun di daerah tropis, namun memang jarang terjadi. Sehingga ketika terjadi hujan es tidak sedikit masyarakat yang mengalami kepanikan. Terlebih lagi jika disertai oleh angin kencang dan hujan yang lebat. Namun sebenarnya tidaklah perlu terlalu khawatirkan atau menjadi panik ketika terjadi hujan es terjadi. Yang perlu kita lakukan ketika terjadi hujan es, hujan lebat disertai angin kencang dan petir adalah: (1) menghindari berteduh di bawah papan reklame atau pohon-pohon yang sudah terlihat rapuh (2) menebang pohon disekitar kita jika terlihat sudah tua (3) jika hujan disertai petir janganlah kita berada ditempat yang lapang.
Fenomena hujan es ini merupakan salah satu gejala cuaca yang wajar. Biasanya terjadi pada masa pancaroba. Yakni merupakan masa peralihan dari musim hujan ke musim kemarau, atau sebaliknya. Hujan es sendiri pada awalnya ditandai dengan terbentuknya awan cumulonimbus. Awan ini bentuknya menggumpal atau seperti bunga kol dengan warna hitam atau gelap. Berdasarkan ciri-cirinya awan cumulonimbus ini merupakan awan rendah, namun memiliki puncak yang tinggi hingga mencapai 17 km. Karena awan yang begitu tinggi sehingga menyebabkan suhu diatas sana begitu dingin hinga mencapai -10 derajat celcius. Kemudian uap air yang terdapat di awan bergabung dengan kristal-kristal es. Sehingga krsital-kristal es tersebut bertambah besar hingga akhirnya jatuh ke bumi akibat pengaruh gravitasi bumi.
Hujan es juga dapat timbul akibat proses pengupan air yang sangat cepat. Sehingga menyebabkan tumbuhnya awan cumulonimbus. Sedangkan salju terbentuk di awan yang terbentang ke atas hingga mecapai udara yang membeku. Awan ini merupakan campuran dari kristal-kristal es dan butiran es yang sangat dingin. Butiran-butiran yang sangat dingin membeku dengan segera ketika bersentuhan dengan kristal-kristal es. Kemudian berkembang dan menempel ke kristal-kristal es yang lain.
Hujan es ini sendiri sulit untuk diramalkan sekalipun oleh BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika). Badan ini merupakan badan yang bertugas mengamati, meneliti dan mensosialisasikan hasil-hasil yang diketahuinya berkaitan dengan gejala cuaca-iklim dan gempa bumi kepada masyarakat luas. Cobalah adik-adik sesekali mengunjungi stasiun BMG bersama teman-teman dan Ibu/Bapak guru di Sekolah. Karena hampir disetiap daerah memiliki stasiun BMG, apalagi di kota besar. Disana kita dapat melihat berbagai jenis alat yang digunakan untuk mengukur suhu udara, kelembaban udara, tekanan udara, kecepatan angin dan juga curah hujan. Sehingga kita akan bertambah pengetahuannya mengenai cuaca, iklim maupun gemap bumi.
Karena masih banyak yang perlu diketahui mengenai pengetahuan tentang bumi kita, yang juga merupakan rumah kita. Seperti selain hujan es, sebetulnya masih ada kejadian lain yang menyangkut atmsofer pada saat musim pancaroba yaitu sering munculnya hujan lebat disertai petir, angin puting beliung, maupun badai. Oleh karena itu kita semua mesti waspada dalam menghadapi perubahan musim yang tidak menentu akibat perubahan iklim global.

Penulis adalah Guru Geografi, Menulis Buku Pendidikan Lingkungan Hidup untuk Sekolah Dasar, Tinggal di Kota Cirebon.