Rabu, 06 Agustus 2008
Jumat, 01 Agustus 2008
Valentine Day's, Bencana Kaum Muda?

Bencana dan cinta adalah dua hal yang berbeda atau bahkan berlawanan namun cukup menarik untuk kita bicarakan saat ini, pasalnya keduanya saat ini sedang menjadi pokok pembicaraan yang hangat dan menarik perhatian banyak orang. Bencana menarik perhatian pejabat pemerintahan dan masayarakat luas sedangkan persoalan cinta ramai dibicarakan kalangan remaja berkenaan dengan moment Valentine’s Day di bulan ini.
Bencana belakangan ini kian akrab ditelinga kita, setiap media massa menjadikan bencana sebagai sajian berita utamanya. Baik bencana yang berpangkal dari aktititas manusia (social disaster), maupun bencana yang ditimbulkan murni karena gejala alam (natural disaster), ataupun juga bencana yang disebabkan oleh kedua unsur tersebut (ecological disaster). Bencana itu agaknya telah lengkap terjadi di Indonesia, melengkapi penderitaan bangsa indonesia selama ini.
Sejak tsunami yang melanda Aceh hingga saat ini agaknya bencana belum mau menjauh dari bumi pertiwi ini. Sehingga tak berlebihan jika Indonesia saat ini dikenal dengan “negeri seribu bencana”. Terakhir adalah bencana banjir dan tanah lonsor di beberapa wilayah Pulau Jawa bahkan hampir saja menenggelamkan daerah sekitar Bengawan Solo.
Namun ada satu hal lagi bencana yang dapat mengancam masa depan generasi penerus bangsa, yakni bencana yang bersumber dari “cinta”. Ini akan menjadi bencana yang sangat besar. Karena kadang kita tidak sadari atau pahami tapi memiliki dampak yang luas bagi kelangsungan suatu bangsa. Bencana yang dimaksud adalah pemahaman cinta yang keliru oleh kalangan generasi muda kita.
Tanggal 14 Februari adalah suatu pengkultusan tentang kasih sayang, cinta atau apapun istilahnya. Banyak kalangan remaja kita yang mengadopsi budaya barat tersebut menjadi bagian dari gaya hidupnya, sehingga mereka melakukan perayaan dengan berbagai macam cara dan tradisi mereka.
Pemahaman cinta yang keliru merupakan pankal bencana yang akan terjadi bagi kalangan remaja kita. Bencana ini tidak saja mendatangkan kerugian materi, jiwa ataupun imateri yang lain. tapi juga akan menyebabkan kehilangan potensi dan harapan penerus bangsa yang sangat berharga bagi masa depan sebuah bangsa.
Kalau kita analogikan antara bencana alam atau salah satunya tsunami dengan bencana cinta akan memiliki suatu keterkaitan hubungan. Sehingga selanjutnya kita dapat mewaspadai potensi kehadiranya dengan membuat “Early Warning System” bagi bencana cinta. Sejatinya baik cinta maupun tsunami sama-sama memiliki kekuatan yang sangat dahsyat yang dapat meluluh lantakan apa saja yang dihampirinva. Hanya saja datangnya tsunami didahului oleh malapetaka yang menakutkan, karena tsunami merupakan gejala alarn yang diawalinya oleh terjadinya gempa tektonik dengan kekuatan lebih dari 6,5 skala richter yang hiposentrumnya didasar laut baru datanglah gelombang pasang yang sangat dahsyat.
Sementara bencana cinta adalah gejolak hati yang datangnya diawali oleh adanya getaran didasar hati yang menimbulkan suatu keindahan, yang amat manis hingga yang merasakannya pun tidak sadar kalau sebetulnya keindahan yang dirasakanya juga dapat berubah meniadi bencana yang dahsyat macam tsunami. Sekali lagi cinta yang membawa bencana adalah cinta yang keliru dalam pemahaman dan penempatanya. Ada senandung seorang penyair yang melukiskan seseorang jatuh cinta yang sesungguhnya sedang merana, dia mengatakan tak seorang pun di dunia yang lebih sengsara dari seseorang yang dilanda cinta, meskipun ia mendapati cinta itu manis rasanya”.
Sudah banyak bukti yang menjadi bagian dari realita kehidupan ditengah-tengah masyarakat kita kalau cinta dapat menjadikan orang menderita atau bahkan mati karena terhasut cinta. Karena dalam segala perilakunya seseorang yang dilanda jatuh cinta tidak berdasar pada logika, sebagaimana judul lagunya Agnes Monica. Kalau tidak ada logika maka tidak ada lagi pertimbangan akal sehat melainkan hanya menggunakan emosi yang meluap bagai air bah yang tak terbendung sehingga akhirnya membawa banjir airmata.
Sehingga Saya pikir mewaspadai datangnya bencana cinta pada kalangan remaja tak kalah pentingnya dengan membuat system peringatan dini bagi bencana-bencana alam seperti tsunami dan banjir.
Perbedaan lain antara cinta dan bencana hanjir, tsunami atau lainya adalah mungkin tidak semua orang mengalaminya tapi rasa cinta pasti setiap orang akan mengalaminya karena mernang kita ada karena buah dan cinta. Sementara tren cinta dikalangan remaja saat ini sudah sangat memprihatinkan karena seringkali menumbuhkan asmara jahilliyah yang melunturkan moralitas budaya timur dan tentunya budaya Islam. Salah satu faktor penyebabnya adalah karena adanya pengenalan dan pemahaman cinta yang keliru dari apa yang mereka didapatkan. Sementara penanaman rasa kasih sayang dari orang tua tidak mereka dapatkan secara utuh. Berbicara cinta tentu erat kaitanya dengan hati, seseorang tidak akan sengsara karena cinta apabila dia memahami makna cinta sejati dan dapat membawa hati dengan hati-hati.
Dalam kitabnya “Raudhatul Muhibbin” Ibnu Qoyim, banyak menceritakan kisah-kisah baik pemuda maupun pemudi yang sakit menderita karena rnenanggung cinta terhadap pujaan atau kekasih hatinya, bahkan diantara mereka ada yang mati karena sakit menanggung beban cinta ini. Namun tentunya tidak berarti jatuh cinta itu dilarang, karena orang hidup tanpa cinta pun pasti akan berkubang dosa dan menjadi mahluk biadab dan garang. Lantas kemana dan kepada siapa cinta yang sebenarnya kita serahkan, apakah kekasih kita. orang tua atau yang lainya?
Ada hal yang perlu kita pikirkan agar kita jangan sampai luluh lantak oleh cinta yang datang tak terbendung bagai banjir bandang atau gelombang tsunami Kita mesti sadar kalau cinta itu pada awalnya manis namun pertengahanya adalah derita kegalauan dan kegelisahan dan jika tidak segera mengikuti jalan Nya maka akhir dari segalanya adalah bencana. Bencana yang tidak saja dirasakan didunia tapi juga di akhirat kelak.
Cinta yang sejati adalah Al-Hubbulillah yakni mencintai Allah yang wajib hukumnya dan harus didahulukan dari cinta yang lain seperti : Al Hubbfillah dan Al Hubb Ma’allah. Al Hubbufillah adalah cinta di jalan Allah seperti halnya cinta kepada Rasulnya. Al Hubb Ma’allah yakni cinta kepada selain Allah seperti kepada orang tua, keluarga, istri atau yang lainya. Tentu kita semua berharap dapat memberikan cinta sejati hanya kepada Nya dan para remaja dapat menjauhkan diri dari cinta yang dapat menimbulkan bencana yang luar biasa dahsyatnya. Ingat cinta kadang kala seperti racun berbalut madu, untuk itu para remaja agar mempersiapkan diri dengan system peringatan dini (Early Warning System) bagi bencana cinta dengan “manajemen hati’.
(Artikel ini telah dimuat di Harian Radar Cirebon 15 Februari 2008)
Jumat, 18 Juli 2008
Tradisi Nadran, Potensi Wisata Pesisir
Masyarakat pesisir (nelayan) Kota Cirebon, beberapa hari ini, tampaknya bersukacita. Semuanya larut dalam kegembiraan rangkaian Festival Pesisiran 2007 yang diselenggarakan dari 28 Juli hingga 6 Agustus 2007. Walaupun nadran sebagai inti rangkaian Festival Pesisiran telah berlalu, yakni 28 Juli, yang dijadikan sebagai pertanda dimulainya festival nelayan tersebut, masyarakat masih tetap antusias mengikuti rangkaian kegiatan selanjutnya.
Beberapa kegiatan lain dalam Festival Pesisiran itu, antara lain pertunjukan seni tradisional yang digelar setiap malam. Selain itu, ada berbagai aneka lomba, bazar, pameran produk olahan hasil laut, dan cendera mata khas pesisir.
Nadran sebenarnya merupakan suatu tradisi hasil akulturasi budaya Islam dan Hindu yang diwariskan sejak ratusan tahun secara turun-temurun. Kata nadran sendiri, menurut sebagian nelayan
Sesajen yang diberikan, oleh masyarakat, disebut ancak, yang berupa anjungan berbentuk replika perahu yang berisi kepala kerbau, kembang tujuh rupa, buah-buahan, makanan khas, dan lain sebagainya. Sebelum dilepaskan ke laut, ancak diarak terlebih dahulu mengelilingi tempat-tempat yang telah ditentukan sambil diiringi dengan berbagai suguhan seni tradisional, seperti tarling, genjring, bouroq,barongsai, telik sandi, jangkungan, ataupun seni kontemporer (drumband).
Nadran atau labuh saji dapat juga diartikan sebagai sebuah upacara pesta laut masyarakat nelayan sebagai perwujudan ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rezeki yang diberikan-Nya lewat hasil laut yang selama ini didapat. Selain itu, dalam upacara nadran juga dilakukan permohonan agar diberi keselamatan dalam melaut, serta tangkapan hasil laut mereka berlimpah di tahun mendatang.
Upacara nadran dilakukan masyarakat nelayan Kota Cirebon setiap satu tahun sekali yang waktunya jatuh antara bulan Juli sampai Agustus. Pelaksanaan nadran di Kota Cirebon tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini kegiatan nadran disatukan dari beberapa perkampungan nelayan yang ada di
Pasalnya, Pemerintah Kota Cirebon sendiri bermaksud menjadikan tradisi nadran sebagai jargon pariwisata. Dengan harapan dapat menjadi magnet atau daya tarik pengembangan pariwisata di
Berbagai kelemahan
Pemerintah Kota Cirebon bersama perguruan tinggi kepariwisataan pernah juga menyelenggarakan lokakarya pengembangan kawasan wisata pesisir dalam rangka kegiatan promosi wisata bidang budaya daya beli PPK-IPM Kota Cirebon, 9-10 Juli 2007.
Dalam lokakarya itu mengemuka beberapa kelemahan yang dihadapi untuk mengembangkan pesisir sebagai kawasan wisata, di antaranya adalah belum adanya rencana induk pengembangan pariwisata daerah dan masih lemahnya dukungan para investor atau dunia usaha.
Banyak ragam wisata yang dapat ditawarkan oleh kawasan pesisir, mulai dari wisata alam bahari, budaya, sampai pada wisata kuliner khas pesisir. Apabila dikelola dengan baik, wisata alam pesisir merupakan wisata alam eksotik yang banyak digemari turis domestik dan mancanegara. Wisata budaya merupakan komunitas kehidupan masyarakat pesisir yang menyimpan keunikan tersendiri, baik secara sosial, ekonomi, maupun budaya. Demikian juga dengan wisata kuliner kawasan pesisir yang kaya cita rasa, yang semuanya berasal dari olahan hasil laut.
Nadran atau pesta laut tidak hanya menjadi milik masyarakat nelayan di
Tentunya masing-masing pemerintah daerah setempat dapat berupaya agar tradisi nadran/pesta laut dapat mengangkat kawasan pesisir menjadi alternatif daerah tujuan wisata (tourism destination country) bagi para pelancong.
Meningkatkan ekonomi pesisir
Setiap daerah tentunya sadar bahwa menggairahkan potensi wisata pesisir akan berdampak pada peningkatan kondisi sosial ekonomi masyarakat pesisir. Saat ini tingkat ekonomi masyarakat pesisir pada umumnya masih rendah. Namun, masyarakat pada umumnya enggan beralih ke profesi lain karena mereka menganggap profesi nelayan sebagai amanat yang dititipkan secara turun-temurun dari pendahulu mereka.
Menjadi tugas pemerintah daerah untuk mengoptimalkan pemanfaatan pesisir untuk kepentingan pariwisata dan wahana/tempat pemasaran produk olahan hasil laut, serta arahan pengembangan pesisir menjadi kawasan wisata yang jelas, seperti menjadikan nadran sebagai event pariwisata.
Di samping bertujuan meningkatkan gairah pariwisata daerah, kegiatan pesta laut atau nadran memiliki beberapa makna yang dapat kita ambil hikmahnya, di antaranya pertama, ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai pencipta dan pemberi rezeki.
Kedua, memupuk rasa persaudaraan (paguyuban), gotong royong, dan solidaritas sosial yang tinggi di antara warga pesisir (nelayan) dalam bermasyarakat. Ketiga, melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai budaya yang berakar dari bangsa sendiri yang kini mulai terkikis zaman.
INDRA YUSUF Penikmat Budaya, Tinggal di Kota
Sumber : Kompas, Sabtu, 08 September 2007
