
Oleh : Indra Yusuf *
Bencana dan cinta adalah dua hal yang berbeda atau bahkan berlawanan namun cukup menarik untuk kita bicarakan saat ini, pasalnya keduanya saat ini sedang menjadi pokok pembicaraan yang hangat dan menarik perhatian banyak orang. Bencana menarik perhatian pejabat pemerintahan dan masayarakat luas sedangkan persoalan cinta ramai dibicarakan kalangan remaja berkenaan dengan moment Valentine’s Day di bulan ini.
Bencana belakangan ini kian akrab ditelinga kita, setiap media massa menjadikan bencana sebagai sajian berita utamanya. Baik bencana yang berpangkal dari aktititas manusia (social disaster), maupun bencana yang ditimbulkan murni karena gejala alam (natural disaster), ataupun juga bencana yang disebabkan oleh kedua unsur tersebut (ecological disaster). Bencana itu agaknya telah lengkap terjadi di Indonesia, melengkapi penderitaan bangsa indonesia selama ini.
Sejak tsunami yang melanda Aceh hingga saat ini agaknya bencana belum mau menjauh dari bumi pertiwi ini. Sehingga tak berlebihan jika Indonesia saat ini dikenal dengan “negeri seribu bencana”. Terakhir adalah bencana banjir dan tanah lonsor di beberapa wilayah Pulau Jawa bahkan hampir saja menenggelamkan daerah sekitar Bengawan Solo.
Namun ada satu hal lagi bencana yang dapat mengancam masa depan generasi penerus bangsa, yakni bencana yang bersumber dari “cinta”. Ini akan menjadi bencana yang sangat besar. Karena kadang kita tidak sadari atau pahami tapi memiliki dampak yang luas bagi kelangsungan suatu bangsa. Bencana yang dimaksud adalah pemahaman cinta yang keliru oleh kalangan generasi muda kita.
Tanggal 14 Februari adalah suatu pengkultusan tentang kasih sayang, cinta atau apapun istilahnya. Banyak kalangan remaja kita yang mengadopsi budaya barat tersebut menjadi bagian dari gaya hidupnya, sehingga mereka melakukan perayaan dengan berbagai macam cara dan tradisi mereka.
Pemahaman cinta yang keliru merupakan pankal bencana yang akan terjadi bagi kalangan remaja kita. Bencana ini tidak saja mendatangkan kerugian materi, jiwa ataupun imateri yang lain. tapi juga akan menyebabkan kehilangan potensi dan harapan penerus bangsa yang sangat berharga bagi masa depan sebuah bangsa.
Kalau kita analogikan antara bencana alam atau salah satunya tsunami dengan bencana cinta akan memiliki suatu keterkaitan hubungan. Sehingga selanjutnya kita dapat mewaspadai potensi kehadiranya dengan membuat “Early Warning System” bagi bencana cinta. Sejatinya baik cinta maupun tsunami sama-sama memiliki kekuatan yang sangat dahsyat yang dapat meluluh lantakan apa saja yang dihampirinva. Hanya saja datangnya tsunami didahului oleh malapetaka yang menakutkan, karena tsunami merupakan gejala alarn yang diawalinya oleh terjadinya gempa tektonik dengan kekuatan lebih dari 6,5 skala richter yang hiposentrumnya didasar laut baru datanglah gelombang pasang yang sangat dahsyat.
Sementara bencana cinta adalah gejolak hati yang datangnya diawali oleh adanya getaran didasar hati yang menimbulkan suatu keindahan, yang amat manis hingga yang merasakannya pun tidak sadar kalau sebetulnya keindahan yang dirasakanya juga dapat berubah meniadi bencana yang dahsyat macam tsunami. Sekali lagi cinta yang membawa bencana adalah cinta yang keliru dalam pemahaman dan penempatanya. Ada senandung seorang penyair yang melukiskan seseorang jatuh cinta yang sesungguhnya sedang merana, dia mengatakan tak seorang pun di dunia yang lebih sengsara dari seseorang yang dilanda cinta, meskipun ia mendapati cinta itu manis rasanya”.
Sudah banyak bukti yang menjadi bagian dari realita kehidupan ditengah-tengah masyarakat kita kalau cinta dapat menjadikan orang menderita atau bahkan mati karena terhasut cinta. Karena dalam segala perilakunya seseorang yang dilanda jatuh cinta tidak berdasar pada logika, sebagaimana judul lagunya Agnes Monica. Kalau tidak ada logika maka tidak ada lagi pertimbangan akal sehat melainkan hanya menggunakan emosi yang meluap bagai air bah yang tak terbendung sehingga akhirnya membawa banjir airmata.
Sehingga Saya pikir mewaspadai datangnya bencana cinta pada kalangan remaja tak kalah pentingnya dengan membuat system peringatan dini bagi bencana-bencana alam seperti tsunami dan banjir.
Perbedaan lain antara cinta dan bencana hanjir, tsunami atau lainya adalah mungkin tidak semua orang mengalaminya tapi rasa cinta pasti setiap orang akan mengalaminya karena mernang kita ada karena buah dan cinta. Sementara tren cinta dikalangan remaja saat ini sudah sangat memprihatinkan karena seringkali menumbuhkan asmara jahilliyah yang melunturkan moralitas budaya timur dan tentunya budaya Islam. Salah satu faktor penyebabnya adalah karena adanya pengenalan dan pemahaman cinta yang keliru dari apa yang mereka didapatkan. Sementara penanaman rasa kasih sayang dari orang tua tidak mereka dapatkan secara utuh. Berbicara cinta tentu erat kaitanya dengan hati, seseorang tidak akan sengsara karena cinta apabila dia memahami makna cinta sejati dan dapat membawa hati dengan hati-hati.
Dalam kitabnya “Raudhatul Muhibbin” Ibnu Qoyim, banyak menceritakan kisah-kisah baik pemuda maupun pemudi yang sakit menderita karena rnenanggung cinta terhadap pujaan atau kekasih hatinya, bahkan diantara mereka ada yang mati karena sakit menanggung beban cinta ini. Namun tentunya tidak berarti jatuh cinta itu dilarang, karena orang hidup tanpa cinta pun pasti akan berkubang dosa dan menjadi mahluk biadab dan garang. Lantas kemana dan kepada siapa cinta yang sebenarnya kita serahkan, apakah kekasih kita. orang tua atau yang lainya?
Ada hal yang perlu kita pikirkan agar kita jangan sampai luluh lantak oleh cinta yang datang tak terbendung bagai banjir bandang atau gelombang tsunami Kita mesti sadar kalau cinta itu pada awalnya manis namun pertengahanya adalah derita kegalauan dan kegelisahan dan jika tidak segera mengikuti jalan Nya maka akhir dari segalanya adalah bencana. Bencana yang tidak saja dirasakan didunia tapi juga di akhirat kelak.
Cinta yang sejati adalah Al-Hubbulillah yakni mencintai Allah yang wajib hukumnya dan harus didahulukan dari cinta yang lain seperti : Al Hubbfillah dan Al Hubb Ma’allah. Al Hubbufillah adalah cinta di jalan Allah seperti halnya cinta kepada Rasulnya. Al Hubb Ma’allah yakni cinta kepada selain Allah seperti kepada orang tua, keluarga, istri atau yang lainya. Tentu kita semua berharap dapat memberikan cinta sejati hanya kepada Nya dan para remaja dapat menjauhkan diri dari cinta yang dapat menimbulkan bencana yang luar biasa dahsyatnya. Ingat cinta kadang kala seperti racun berbalut madu, untuk itu para remaja agar mempersiapkan diri dengan system peringatan dini (Early Warning System) bagi bencana cinta dengan “manajemen hati’.
(Artikel ini telah dimuat di Harian Radar Cirebon 15 Februari 2008)
Bencana dan cinta adalah dua hal yang berbeda atau bahkan berlawanan namun cukup menarik untuk kita bicarakan saat ini, pasalnya keduanya saat ini sedang menjadi pokok pembicaraan yang hangat dan menarik perhatian banyak orang. Bencana menarik perhatian pejabat pemerintahan dan masayarakat luas sedangkan persoalan cinta ramai dibicarakan kalangan remaja berkenaan dengan moment Valentine’s Day di bulan ini.
Bencana belakangan ini kian akrab ditelinga kita, setiap media massa menjadikan bencana sebagai sajian berita utamanya. Baik bencana yang berpangkal dari aktititas manusia (social disaster), maupun bencana yang ditimbulkan murni karena gejala alam (natural disaster), ataupun juga bencana yang disebabkan oleh kedua unsur tersebut (ecological disaster). Bencana itu agaknya telah lengkap terjadi di Indonesia, melengkapi penderitaan bangsa indonesia selama ini.
Sejak tsunami yang melanda Aceh hingga saat ini agaknya bencana belum mau menjauh dari bumi pertiwi ini. Sehingga tak berlebihan jika Indonesia saat ini dikenal dengan “negeri seribu bencana”. Terakhir adalah bencana banjir dan tanah lonsor di beberapa wilayah Pulau Jawa bahkan hampir saja menenggelamkan daerah sekitar Bengawan Solo.
Namun ada satu hal lagi bencana yang dapat mengancam masa depan generasi penerus bangsa, yakni bencana yang bersumber dari “cinta”. Ini akan menjadi bencana yang sangat besar. Karena kadang kita tidak sadari atau pahami tapi memiliki dampak yang luas bagi kelangsungan suatu bangsa. Bencana yang dimaksud adalah pemahaman cinta yang keliru oleh kalangan generasi muda kita.
Tanggal 14 Februari adalah suatu pengkultusan tentang kasih sayang, cinta atau apapun istilahnya. Banyak kalangan remaja kita yang mengadopsi budaya barat tersebut menjadi bagian dari gaya hidupnya, sehingga mereka melakukan perayaan dengan berbagai macam cara dan tradisi mereka.
Pemahaman cinta yang keliru merupakan pankal bencana yang akan terjadi bagi kalangan remaja kita. Bencana ini tidak saja mendatangkan kerugian materi, jiwa ataupun imateri yang lain. tapi juga akan menyebabkan kehilangan potensi dan harapan penerus bangsa yang sangat berharga bagi masa depan sebuah bangsa.
Kalau kita analogikan antara bencana alam atau salah satunya tsunami dengan bencana cinta akan memiliki suatu keterkaitan hubungan. Sehingga selanjutnya kita dapat mewaspadai potensi kehadiranya dengan membuat “Early Warning System” bagi bencana cinta. Sejatinya baik cinta maupun tsunami sama-sama memiliki kekuatan yang sangat dahsyat yang dapat meluluh lantakan apa saja yang dihampirinva. Hanya saja datangnya tsunami didahului oleh malapetaka yang menakutkan, karena tsunami merupakan gejala alarn yang diawalinya oleh terjadinya gempa tektonik dengan kekuatan lebih dari 6,5 skala richter yang hiposentrumnya didasar laut baru datanglah gelombang pasang yang sangat dahsyat.
Sementara bencana cinta adalah gejolak hati yang datangnya diawali oleh adanya getaran didasar hati yang menimbulkan suatu keindahan, yang amat manis hingga yang merasakannya pun tidak sadar kalau sebetulnya keindahan yang dirasakanya juga dapat berubah meniadi bencana yang dahsyat macam tsunami. Sekali lagi cinta yang membawa bencana adalah cinta yang keliru dalam pemahaman dan penempatanya. Ada senandung seorang penyair yang melukiskan seseorang jatuh cinta yang sesungguhnya sedang merana, dia mengatakan tak seorang pun di dunia yang lebih sengsara dari seseorang yang dilanda cinta, meskipun ia mendapati cinta itu manis rasanya”.
Sudah banyak bukti yang menjadi bagian dari realita kehidupan ditengah-tengah masyarakat kita kalau cinta dapat menjadikan orang menderita atau bahkan mati karena terhasut cinta. Karena dalam segala perilakunya seseorang yang dilanda jatuh cinta tidak berdasar pada logika, sebagaimana judul lagunya Agnes Monica. Kalau tidak ada logika maka tidak ada lagi pertimbangan akal sehat melainkan hanya menggunakan emosi yang meluap bagai air bah yang tak terbendung sehingga akhirnya membawa banjir airmata.
Sehingga Saya pikir mewaspadai datangnya bencana cinta pada kalangan remaja tak kalah pentingnya dengan membuat system peringatan dini bagi bencana-bencana alam seperti tsunami dan banjir.
Perbedaan lain antara cinta dan bencana hanjir, tsunami atau lainya adalah mungkin tidak semua orang mengalaminya tapi rasa cinta pasti setiap orang akan mengalaminya karena mernang kita ada karena buah dan cinta. Sementara tren cinta dikalangan remaja saat ini sudah sangat memprihatinkan karena seringkali menumbuhkan asmara jahilliyah yang melunturkan moralitas budaya timur dan tentunya budaya Islam. Salah satu faktor penyebabnya adalah karena adanya pengenalan dan pemahaman cinta yang keliru dari apa yang mereka didapatkan. Sementara penanaman rasa kasih sayang dari orang tua tidak mereka dapatkan secara utuh. Berbicara cinta tentu erat kaitanya dengan hati, seseorang tidak akan sengsara karena cinta apabila dia memahami makna cinta sejati dan dapat membawa hati dengan hati-hati.
Dalam kitabnya “Raudhatul Muhibbin” Ibnu Qoyim, banyak menceritakan kisah-kisah baik pemuda maupun pemudi yang sakit menderita karena rnenanggung cinta terhadap pujaan atau kekasih hatinya, bahkan diantara mereka ada yang mati karena sakit menanggung beban cinta ini. Namun tentunya tidak berarti jatuh cinta itu dilarang, karena orang hidup tanpa cinta pun pasti akan berkubang dosa dan menjadi mahluk biadab dan garang. Lantas kemana dan kepada siapa cinta yang sebenarnya kita serahkan, apakah kekasih kita. orang tua atau yang lainya?
Ada hal yang perlu kita pikirkan agar kita jangan sampai luluh lantak oleh cinta yang datang tak terbendung bagai banjir bandang atau gelombang tsunami Kita mesti sadar kalau cinta itu pada awalnya manis namun pertengahanya adalah derita kegalauan dan kegelisahan dan jika tidak segera mengikuti jalan Nya maka akhir dari segalanya adalah bencana. Bencana yang tidak saja dirasakan didunia tapi juga di akhirat kelak.
Cinta yang sejati adalah Al-Hubbulillah yakni mencintai Allah yang wajib hukumnya dan harus didahulukan dari cinta yang lain seperti : Al Hubbfillah dan Al Hubb Ma’allah. Al Hubbufillah adalah cinta di jalan Allah seperti halnya cinta kepada Rasulnya. Al Hubb Ma’allah yakni cinta kepada selain Allah seperti kepada orang tua, keluarga, istri atau yang lainya. Tentu kita semua berharap dapat memberikan cinta sejati hanya kepada Nya dan para remaja dapat menjauhkan diri dari cinta yang dapat menimbulkan bencana yang luar biasa dahsyatnya. Ingat cinta kadang kala seperti racun berbalut madu, untuk itu para remaja agar mempersiapkan diri dengan system peringatan dini (Early Warning System) bagi bencana cinta dengan “manajemen hati’.
(Artikel ini telah dimuat di Harian Radar Cirebon 15 Februari 2008)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar