Fenomena gelombang pasang atau alun sedikitnya telah melanda 11 provinsi, meliputi Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Bali. Dari ke-11 provinsi tersebut, Jawa Barat merupakan salah satu provinsi yang mengalami kerusakan paling parah. Di pantai utara (pantura) gelombang pasang telah menyebabkan kerugian yang begitu besar dengan rusaknya ribuan hektar sawah, tambak ikan, rumpon (budidaya kerang hijau), tambak garam, permukiman, dan beberapa infrastruktur lainnya. Di samping kerugian ekonomi, tentu ancaman selanjutnya adalah degradasi lingkungan pantai.
Ekosistem pantai sebagai benteng konservasi akan mengalami kerusakan yang lebih parah. Akibatnya, keseimbangan lingkungan akan terganggu. Jika tidak segera dilakukan konservasi pantai, baik dengan rehabilitasi ekosistem pantai maupun pembangunan infrastruktur pelindung pantai, persoalan yang telah ada akan bertambah rumit, yakni meningkatnya laju abrasi, intrusi air laut, pencemaran, dan sedimentasi. Beberapa ekosistem pantai telah terbukti mampu menghambat persoalan-persoalan yang dihadapi lingkungan pantai, seperti abrasi dan intrusi air laut. Ekosistem pantai yang dimaksud adalah ekosistem hutan bakau (mangrove), padang lamun (seagrass beds), dan terumbu karang (coral reef). Ekosistem hutan bakau merupakan kawasan yang paling produktif dari total sistem wilayah pesisir karena ekosistem hutan bakau memiliki kemampuan sebagai penyaring nutrient. Di samping itu, hutan bakau memiliki sistem perakaran unik yang mampu mengikat sedimen dan menstabilkan substrat. Jadi, ekosistem ini berperan penting dalam menjaga keseimbangan dan keberlangsungan ekosistem pesisir dan lautan, rantai makanan, keberlanjutan sumber daya laut, serta melindungi dari abrasi laut.
Hutan bakau dalam suatu ketetapan ditentukan kawasan pantai berhutan bakau minimal 130 kali nilai rata-rata perbedaan pasang tinggi dan terendah tahunan, diukur dari garis surut terendah ke arah darat. Ekosistem padang lamun merupakan ekosistem yang kurang bernilai ekonomis, tetapi produktivitasnya dapat dikatakan hampir setara dengan ekosistem hutan bakau dari sudut pandang kegiatan perikanan. Pada umumnya padang lamun berada di kawasan setelah hutan bakau ke arah laut. Sistem perakaran padang lamun tidak berbeda jauh dengan hutan bakau sehingga padang lamun pun mampu menstabilkan substrat dan berperan mendeposit sedimen. Padang lamun dapat disebut sebagai penyangga (buffer) karena interaksi antara keduanya berupa penyerapan energi dari ekosistem hutan bakau oleh ekosistem padang lamun. Selain itu, ekosistem ini juga berperan sebagai suatu habitat bagi berbagai sumber daya bernilai komersial tinggi, seperti udang dan ikan-ikanan. Ekosistem terumbu karang merupakan hutan hujan tropis (rainfall forestry) bagi perairan. Hal ini dikarenakan keanekaragaman hayatinya sama banyak dengan hutan hujan tropis. Ekosistem terumbu karang berada setelah ekosistem padang lamun. Ekosistem ini jauh lebih sensitif dibandingkan dengan kedua ekosistem lainnya, terutama terhadap perubahan-perubahan lingkungan yang bersifat non-alami seperti pencemaran serta penggunaan bahan peledak atau pukat harimau. Jika kondisi pantai buruk dan tidak diimbangi oleh daya regenerasi yang baik dan cepat, menyusutnya ekosistem terumbu karang akan berdampak terhadap menurunnya nilai ekonomi aktivitas perikanan dan peranannya sebagai gudang plasma nutfah (genetic pool) lingkungan lautan. Indramayu dan Cirebon Dengan adanya gelombang pasang yang menerpa wilayah pantai utara, kerusakan pantai di Indramayu dan Cirebon dipastikan akan mengalami peningkatan tajam. Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup dan Pertambangan Indramayu, sebelum gelombang pasang, sepanjang 57 kilometer atau 50 persen pantai di Indramayu rusak karena abrasi. Kenyataan ini mengalami peningkatan 20 persen dibandingkan dengan tahun lalu (Kompas, 23/4/07).
Sementara mengenai laju abrasi secara keseluruhan di pantai utara Jawa Barat, diperkirakan setiap tahun sebanyak 205 hektar lahan terkikis air laut. Peningkatan kerusakan pantai di Indramayu maupun pantura Jabar terjadi karena menyusutnya mangrove sebagai salah satu ekosistem pantai. Pada tahun 1990 mangrove menutup hampir 13 persen dari 3,7 juta hektar wilayah pantai Jabar, tetapi luas tutupan hutan menjadi tinggal 10 persen tahun 2003. Pada tahun 1990-2003 hutan mangrove di pantura Jabar berkurang 94.568 hektar, atau berkurang sekitar 7.274 hektar per tahun. Di wilayah ini kerusakan terparah terjadi di Kabupaten Bekasi, yakni 96,3 persen hutan bakaunya dalam kondisi rusak. Selanjutnya ialah Indramayu dengan kerusakan hampir 28 persen per tahun.
Dengan laju kerusakan yang kian cepat dikhawatirkan kerusakan akan semakin cepat setelah terjadi gelombang pasang. Untuk itu, diharapkan pemerintah daerah, institusi terkait, serta masyarakat pesisir dan sekitarnya segera melakukan upaya konservasi pantai, baik melalui rehabilitasi ekosistem maupun pembangunan infrastruktur pelindung pantai. Mengingat kawasan pantura Jawa tidak memiliki gugusan karang sebagai penahan abrasi seperti pada pantai selatan Jawa yang berkarang dan berbatu, di sepanjang pantura Jawa sebaiknya dibangun infrastruktur pelindung pantai. Hal itu untuk mengoptimalkan ekosistem pantai sebagai konservasi mengalami kesulitan berkaitan dengan karakteristik pantai.
Di Indramayu lebih sulit merehabilitasi mangrove karena pantainya berpasir, sedangkan kawasan mangrove membutuhkan pantai yang berlumpur. Sementara kelangsungan ekosistem pantai di Cirebon mengalami hambatan terkait dengan aktivitas pelabuhan dan pencemaran. Upaya konservasi pantura Jawa, khususnya Indramayu dan Cirebon, memerlukan cara mekanisasi dengan membangun infrastruktur pelindung pantai. Infrastruktur itu antara lain: 1. Revetment, bangunan pelindung tebing pantai terhadap gelombang yang lebih kecil, biasanya untuk pelabuhan. 2. Bulk heads, untuk menahan terjadinya sliding tanah dan melindungi tanah dari kerusakan akibat gelombang. 3. Groin (groyne), bangunan pelindung pantai untuk menahan angkutan pasir. 4. Break water, bangunan pelindung pantai yang bertujuan untuk mengurangi besarnya energi gelombang yang akan merusak daerah tertentu. Dengan demikian, ancaman persoalan-persoalan kawasan pantai dapat teratasi dan masyarakat pesisir khususnya dapat tenang menjalankan aktivitas walaupun tentu dengan mengeluarkan anggaran cukup besar.
Kompas - JabarJuly 2, 2007
INDRA YUSUF Peminat Masalah Lingkungan, Alumnus Jurusan Geografi UPI Bandung
.
Ekosistem pantai sebagai benteng konservasi akan mengalami kerusakan yang lebih parah. Akibatnya, keseimbangan lingkungan akan terganggu. Jika tidak segera dilakukan konservasi pantai, baik dengan rehabilitasi ekosistem pantai maupun pembangunan infrastruktur pelindung pantai, persoalan yang telah ada akan bertambah rumit, yakni meningkatnya laju abrasi, intrusi air laut, pencemaran, dan sedimentasi. Beberapa ekosistem pantai telah terbukti mampu menghambat persoalan-persoalan yang dihadapi lingkungan pantai, seperti abrasi dan intrusi air laut. Ekosistem pantai yang dimaksud adalah ekosistem hutan bakau (mangrove), padang lamun (seagrass beds), dan terumbu karang (coral reef). Ekosistem hutan bakau merupakan kawasan yang paling produktif dari total sistem wilayah pesisir karena ekosistem hutan bakau memiliki kemampuan sebagai penyaring nutrient. Di samping itu, hutan bakau memiliki sistem perakaran unik yang mampu mengikat sedimen dan menstabilkan substrat. Jadi, ekosistem ini berperan penting dalam menjaga keseimbangan dan keberlangsungan ekosistem pesisir dan lautan, rantai makanan, keberlanjutan sumber daya laut, serta melindungi dari abrasi laut.
Hutan bakau dalam suatu ketetapan ditentukan kawasan pantai berhutan bakau minimal 130 kali nilai rata-rata perbedaan pasang tinggi dan terendah tahunan, diukur dari garis surut terendah ke arah darat. Ekosistem padang lamun merupakan ekosistem yang kurang bernilai ekonomis, tetapi produktivitasnya dapat dikatakan hampir setara dengan ekosistem hutan bakau dari sudut pandang kegiatan perikanan. Pada umumnya padang lamun berada di kawasan setelah hutan bakau ke arah laut. Sistem perakaran padang lamun tidak berbeda jauh dengan hutan bakau sehingga padang lamun pun mampu menstabilkan substrat dan berperan mendeposit sedimen. Padang lamun dapat disebut sebagai penyangga (buffer) karena interaksi antara keduanya berupa penyerapan energi dari ekosistem hutan bakau oleh ekosistem padang lamun. Selain itu, ekosistem ini juga berperan sebagai suatu habitat bagi berbagai sumber daya bernilai komersial tinggi, seperti udang dan ikan-ikanan. Ekosistem terumbu karang merupakan hutan hujan tropis (rainfall forestry) bagi perairan. Hal ini dikarenakan keanekaragaman hayatinya sama banyak dengan hutan hujan tropis. Ekosistem terumbu karang berada setelah ekosistem padang lamun. Ekosistem ini jauh lebih sensitif dibandingkan dengan kedua ekosistem lainnya, terutama terhadap perubahan-perubahan lingkungan yang bersifat non-alami seperti pencemaran serta penggunaan bahan peledak atau pukat harimau. Jika kondisi pantai buruk dan tidak diimbangi oleh daya regenerasi yang baik dan cepat, menyusutnya ekosistem terumbu karang akan berdampak terhadap menurunnya nilai ekonomi aktivitas perikanan dan peranannya sebagai gudang plasma nutfah (genetic pool) lingkungan lautan. Indramayu dan Cirebon Dengan adanya gelombang pasang yang menerpa wilayah pantai utara, kerusakan pantai di Indramayu dan Cirebon dipastikan akan mengalami peningkatan tajam. Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup dan Pertambangan Indramayu, sebelum gelombang pasang, sepanjang 57 kilometer atau 50 persen pantai di Indramayu rusak karena abrasi. Kenyataan ini mengalami peningkatan 20 persen dibandingkan dengan tahun lalu (Kompas, 23/4/07).
Sementara mengenai laju abrasi secara keseluruhan di pantai utara Jawa Barat, diperkirakan setiap tahun sebanyak 205 hektar lahan terkikis air laut. Peningkatan kerusakan pantai di Indramayu maupun pantura Jabar terjadi karena menyusutnya mangrove sebagai salah satu ekosistem pantai. Pada tahun 1990 mangrove menutup hampir 13 persen dari 3,7 juta hektar wilayah pantai Jabar, tetapi luas tutupan hutan menjadi tinggal 10 persen tahun 2003. Pada tahun 1990-2003 hutan mangrove di pantura Jabar berkurang 94.568 hektar, atau berkurang sekitar 7.274 hektar per tahun. Di wilayah ini kerusakan terparah terjadi di Kabupaten Bekasi, yakni 96,3 persen hutan bakaunya dalam kondisi rusak. Selanjutnya ialah Indramayu dengan kerusakan hampir 28 persen per tahun.
Dengan laju kerusakan yang kian cepat dikhawatirkan kerusakan akan semakin cepat setelah terjadi gelombang pasang. Untuk itu, diharapkan pemerintah daerah, institusi terkait, serta masyarakat pesisir dan sekitarnya segera melakukan upaya konservasi pantai, baik melalui rehabilitasi ekosistem maupun pembangunan infrastruktur pelindung pantai. Mengingat kawasan pantura Jawa tidak memiliki gugusan karang sebagai penahan abrasi seperti pada pantai selatan Jawa yang berkarang dan berbatu, di sepanjang pantura Jawa sebaiknya dibangun infrastruktur pelindung pantai. Hal itu untuk mengoptimalkan ekosistem pantai sebagai konservasi mengalami kesulitan berkaitan dengan karakteristik pantai.
Di Indramayu lebih sulit merehabilitasi mangrove karena pantainya berpasir, sedangkan kawasan mangrove membutuhkan pantai yang berlumpur. Sementara kelangsungan ekosistem pantai di Cirebon mengalami hambatan terkait dengan aktivitas pelabuhan dan pencemaran. Upaya konservasi pantura Jawa, khususnya Indramayu dan Cirebon, memerlukan cara mekanisasi dengan membangun infrastruktur pelindung pantai. Infrastruktur itu antara lain: 1. Revetment, bangunan pelindung tebing pantai terhadap gelombang yang lebih kecil, biasanya untuk pelabuhan. 2. Bulk heads, untuk menahan terjadinya sliding tanah dan melindungi tanah dari kerusakan akibat gelombang. 3. Groin (groyne), bangunan pelindung pantai untuk menahan angkutan pasir. 4. Break water, bangunan pelindung pantai yang bertujuan untuk mengurangi besarnya energi gelombang yang akan merusak daerah tertentu. Dengan demikian, ancaman persoalan-persoalan kawasan pantai dapat teratasi dan masyarakat pesisir khususnya dapat tenang menjalankan aktivitas walaupun tentu dengan mengeluarkan anggaran cukup besar.
Kompas - JabarJuly 2, 2007
INDRA YUSUF Peminat Masalah Lingkungan, Alumnus Jurusan Geografi UPI Bandung

3 komentar:
Pak saya adalah salah satu murid anda di SMAN 7 tepatnya saya anak XI IA.
bagaimana cara menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya alam selain ditinjau dari segi agama?
Di blog anda tertera bahwa kerusakan bumi itu disebabkan oleh manusia bkn krna umur tapi bagaimana cara penanganannya untuk membuat kita lebih menyadari bahwa penanganannya tdk mudah apabila sdh rusak??
pak apakah kejadian di aceh 4 thn yg lalu juga mengakibatkan pasca gelombang dipantura
dan apakah hutan bakau yang ditanam dipesisir pantai efektif menahan gelombang pasang ygterjadi di pantura
thx
Siti maryam_Rohayani 2 ips 2
Rizky F 2 ips 3
pak,mohon jelaskan peristiwa terjadinya aurora???
thanx
Posting Komentar