Rabu, 23 Juli 2008

Menanamkan Kesadaran Lingkungan

Menanamkan Kesadaran Llngkungan
Oleh : Indra Yusuf
Hari Lingkungan hidup Sedunia yang jatuh pada tanggal 5 Juni, tidak lain adalah untuk memperingati Konferensi Lingkungan Hidup pertama di dunia yang diselenggarakan di Stokholm pada tahun1972. Tentu bukan untuk memperingati konferensinya melainkan merupakan salah satu bentuk upaya untuk mengingatkan kembali masyarakat dunia akan pentingnya perilaku menjaga lingkungan. Mengingat lingkungan (baca : bumi) yang kita tinggali semakin hari dirasakan makin menurun kualitasnya di samping makin bertambah kompleksitas permasalahanya. Bagaimana tidak setiap saat eksploitasi sumberdaya alam dari perut bumi dikuras secara besar-besaran untuk memenuhi kebutuhan manusia.
Menurunnya kualitas lingkungan hidup tentunya menyebabkan semakin rendahnya daya dukung lingkungan secara umum. Pengertian daya dukung lingkungan sendiri adalah ukuran kemampuan suatu lingkungan dalam mendukung sejumlah populasi manusia untuk dapat hidup secara wajar dalam lingkungan tersebut (Nursid Sumaatmadja : 1989). Penurunan daya dukung lingkungan harus dikekang dengan meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan atau setidaknya harus dapat diimbangi dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi agar tidak terjadi benturan-benturan antara daya dukung lingkungan yang ada dengan populasi manusia kian pesat
Banyaknya bencana alam yang terjadi karena kerusakan lingkungan, menunjukan rendahnya kesadaran masyarakat terhadap lingkungan. Rendahnya kesadaran lingkungan masyarakat dipicu oleh ketidaktahuan tentang pentingnya menjaga lingkungan. Tapi bukan itu persoalannya ! Degradasi lingkungan yang kini terjadi, bukan karena ketidaktahuan atau ketidakmengertian akan pentingnya menjaga lingkungan. Hal ini terjadi karena faktor lain, yakni faktor desakan pembangunan atau tekanan ekonomi yang lebih kuat dibanding kepekaan terhadap lingkungan ditambah lagi dengan pesatnya pertumbuhan penduduk. Lebih tegas lagi kerusakan lingkungan yang terjadi terjadi disebabkan oleh adanya keserakahan manusia atau ketidakberdayaan manusia dalam menghadapi tuntutan kebutuhan sosial dan ekonomi.
Siapapun dapat menjadi pelaku kerusakan lingkungan baik secara individu maupun kolektif mulai dari para pejabat, anggota dewan, pengusaha ataupun masayarakat kecil. Sebagai contoh kerusakan lingkungan hutan hujan tropis di Kalimantan dan Sumatera adalah sebagian ulah dari oknum pejabat baik di pemerintah daerah maupun pemerintah pusat. Pembangunan vila-vila di kawasan perbukitan sehingga merusak fungsinya sebagai daerah resapan air adalah ulah para pengembang dan pejabat. Sedangkan Penambangan bahan galian yang menyebabkan kerusakan lingkungan adalah ulah para pengusaha tambang dan rakyat sebagai penambang kecil. Demikian pula dengan pendangkalan sungai oleh tumpukan sampah, rusaknya mangrove di pantai dan pembangunan pemukiman di ruang terbuka hijau adalah ulah masyarakat kecil karena keterbatasnnya. Dan banyak lagi contoh lain yang menunjukan kerusakan lingkungan baik diakibatkan oleh individu ataupun kelompok masyarakat. Jadi kita semua mempunyai potensi untuk menjadi perusak lingkungan bila kita tidak mempunyai kesadaran dan komitmen yang tinggi terhadap lingkungan.
Berbagai upaya dilakukan untuk menahan laju cepatnya kerusakan lingkungan. Baik melalui regulasi maupun kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah. Tapi Undang-undang atau peraturan yang ada seolah tidak berdaya menunjukan taringnya. Salah satu contohnya adalah Keberadaan UU No 23/1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup, terbentuknya Kementerian lingkungan hidup (awalnya bernama Kantor Menteri Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup), dan disusul berdirinya badan/ dinas lingkungan hidup disetiap provinsi dan kabupaten/kota belum mampu menghentikan kerusakan lingkungan yang terus terjadi (Kompas, Sobirin :05/05/07).
Sehingga langkah strategis yang perlu di optimalkan adalah melalui penyelenggaran pendidikan lingkungan hidup di sekolah-sekolah. Semestinya bencana yang terjadi dapat menjadi proses pendidikan lingkungan secara langsung. Namun bencana lingkungan (ecological disaster) yang terjadi hanya dijadikan pelajaran sesaat bagi pemerintah maupun masyarakat, efek yang ditimbulkan dari bencana tersebut hanya sebatas shock therapy, yang setelah sekian lama bencana berlalu semuanya kembali seperti biasa saat bencana belum melanda hingga bencana berikutnya datang.
Pendidikan lingkungan sebagai salah satu cara untuk menekan laju kerusakan lingkungan dapat dilakukan mulai dari lembaga pendidikan formal tingkat dasar sampai tingkat menengah minimalnya, sebagaimana upaya yang telah dilakukan Gubernur Jawa Barat yang mulai tahun ajaran mendatang diwajibkan untuk menyelenggarakan mulok pendidikan lingkungan hidup di sekolah-sekolah. Walaupun belum jelas kurikulum dan isi materi bahan ajarnya. Pendidikan lingkungan hidup yang di maksud adalah suatu program kependidikan untuk membina anak didik memiliki pengertian, kesadaran, sikap dan perilaku anak didik yang rasional serta bertanggung jawab tentang pengaruh timbal balik antara penduduk dan lingkungan hidup dalam berbagai aspek kehidupan manusia.
Sementara pendidikan kependudukan lingkungan hidup menurut Depdiknas memiliki beberapa tujuan yaitu ; (1) mengembangkan pengetahuan tentang konsep dasar kependudukan dan lingkungan hidup, (2) mengembangkan kesadaran terhadap adanya masalah kependudukan dan lingkungan hidup pada masa kini dan prospekya pada masa yang akan datang, (3) membina kesadaran akan perlunya mengatasi masalah persebaran dan pertumbuhan penduduk serta kemerosotan kualitas lingkungan hidup, (4) mengembangkan pengetahuan dan pengertian tentang hubungan saling mempengaruhi antara dinamika kependudukan dengan sosial budaya, ekonomi dan teknologi, serta kualitas lingkungan hidup, (5) mengembangkan nilai dan sikap positif yang mengarah kepada pembentukan keluarga yang bertanggung jawab dalam lingkungan hidup yang serasi dan menjamin kehidupan keluarga dan masyarakat yang semakin sejahtera dan berkeseimbangan, (6) mengembangkan penguasaan keterampilan yang diperlukan untuk membina keluarga yang bertanggung jawab, memafaatkan sumberdaya secara rasional, memelihara dan melestarikan lingkungan hidup yang lebih baik, (7) mengembangkan partisipasi aktif secara individual atau kelompok dalam kegiatan yang menyangkut usaha peningkatan kualitas hidup melalui usaha penyebaran penduduk secara rasional, pengendalian fertilitas dan keserasian, keseimbangan lingkungan hidup.
Kita masih ingat bencana lingkungan yang terjadi beberapa waktu lalu merupakan bencana yang selalu berulang dan bahkan di sebutnya sebagai bencana musiman (siklus bencana) tanpa ada upaya yang sungguh-sungguh untuk memperbaikinya. Kebakaran hutan tropis, longsoran sampah leuwigajah, banjir dikawasan Bandung Selatan - Jakarta, pencemaran tanah-air udara, kerusakan kawasan Pantai Utara Jawa akibat rusaknya ekosistem mangrove adalah bencana yang selalu berulang dan frekuensi kian cepat. Disamping itu masih ada bencana global yang siap mengancam yaitu gejala pemanasan global yang mempunyai efek luas bagi kehidupan manusia baik secara langsung maupun tidak langsung diberbagai belahan bumi termasuk di Indenesia. Sebagaimana tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini yakni “Iklim Berubah, Waspadalah terhadap Bencana Lingkungan”.
Walaupun berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan tapi kenyataanya belum menunjukan hasil yang signifikan, kerusakan lingkungan dari tahun ke tahun kian bertambah luas dan kompleks. Pendidikan yang dirasakan sebagai upaya strategis untuk membentuk masyarakat yang peka terhadap lingkungannya pun belum dilakukan pemerintah secara serius, sehingga hasilnya pun kurang memuaskan. Lantas bagaimana upaya untuk menciptakan masayarakat yang peduli terhadap lingkungan?
Sebenarnya pendidikan lingkungan dapat mulai dilakukan dari lingkungan keluarga dengan menanamkan kebiasaan-kebiasaan yang erat kaitannya dengan pendidikan lingkungan. Banyak hal yang dapat kita tanamkan pada lingkungan keluraga ataupun sekolah berkaitan dengan upaya menggugah kesadaran lingkungan proses internalisasinya (pendarahdagingan). Misalnya : Reduce, mengurangi pemakaian secara berlebihan pada penggunaan air bersih ataupun bahan bakar. Reuse, menggunakan suatu barang secara berulang tanpa harus membuang sekali pakai. Recycle, mendaur ulang barang barang yang telah kita pakai. Respect , dapat menghargai barang sesuai dengan fungsinya. Replant, menanam kemabali pohon-pohonan di pekarangan rumah kita. Composting, sekali-kali melakukan pengolahan sampah untuk menjadi pupuk atau kompos yang bermanfaat bagi tanaman-tanaman di pekarangan rumah kita. Dengan membiasakan perilaku-perilaku ramah lingkungan disertai dengan teladan dari orang tua, guru, pemerintah atau pejabat, diharapkan kepedulian lingkungan akan menjadi budaya yang mendarah daging sehingga membantu keberhasilan tujuan pendidikan lingkungan hidup.

3 komentar:

Anonim mengatakan...

asallamualaikum pa' saya imam Hamdany dari kelas XI_IS 3 ingin Memberi masukan tentang aRtikel Bapa'!! kan dalam isI tsb baPa' menghimbau kalau kita harus menjaga bumi& Lingkungan kita ini dengan menanamkan kesadaran lingkungan??? mengapa dalam isi teks tsb tidak di sisipI dengan gambar yang membuat kita itu mau& semangat untuk menjaga dan melestarikan lingkungan kita ini giTu???? YaA contoHnYa gambar seseorang yang sedang meLestarikan lingKunganya..trus gambar2 yang nunjukin kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh manusia itu sendiri.....itu saja pa' masukan dari saya, smOga suKses yaA pa'...AssL

Anonim mengatakan...

assalamu'alaikum saya valid nugraha dari XI IS 3
Komentar saya
Isinya bagus dan banyak sekali sehingga saya kurang mengerti.....Bapa' kenapa memberi judul"menanamkan kesadaran lingkungan"kenapa bukan manusia yg disadarkan kan manusia yg membuat kerusakan lingkungan.......udah yaa Pa' gitu aza!!!!!wsllm

Anonim mengatakan...

assalamualaikum.... ni sugeng sugianto dari XI IPS 3.
...komentar saya...
artikel ini sudah bagus. tapi,kenapa hanya ada cara-cara menanggulangi kerusakan lingkungan. seharusnya bapa' juga melampirkan kalimat-kalimat ajakan yang menarik, agar pembaca merasa tertarik untuk melakukan upaya-upaya penanggulangan kerusakan lingkungan.

yang ke-2...
mengapa bapa' hanya memberikan teorinya saja, seharusnya bapa' juga menerapkan hal ini ke dalam praktek.. agar setiap siswa mengerti.....
yang ke-3....
udahlah gitu aza,,, good luck!!! jangan pernah berhenti dalam berkarya.... wassalam