Mengemas MOS Secara Edukatif
Oleh : Indra Yusuf*
Ingar bingar musim Penerimaan Siswa Baru (PSB) telah selesai. Walaupun masih menyisakan sejumlah persoalan terkait transparansi, objektifitas dan terlebih juga rasa kekecewaan, bagi mereka yang tidak dapat melanjutkan kesekolah negeri atau ke sekolah favorit yang diharapkan. Kini kita telah menginjak tahun ajaran baru 2008/2009 dan tentunya harus dibarengi oleh semangat belajar baru dari para siswa baru .
Seperti biasanya awal tahun ajaran baru selalu dimulai dengan pelaksanaan MOS (Masa Orientasi Siswa) atau MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) atau OPSPEK (Orientasi Pengenalan Studi dan Pengenalan Kampus) dilingkungan perguruan tinggi. Sesuai dengan namanya MOS, MPLS dan Opspek memiliki tujuan untuk memperkenalkan lingkungan sekolah sebagai wiyata mandala bagi siswa/mahasiswa baru, sebelum memulai kegiatan belajar/kuliah yang akan ditempuhnya selama masa belajar. Termasuk didalamnya tentu juga dikenalkan dengan kurikulum (program penjurusan), budaya sekolah, warga sekolah, kedisiplinan dan tatatertib sekolah.
Dilihat dari tujuannya tentu kegiatan MOS sangatlah positif dan penting untuk dilaksanakan dalam setiap memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Karena bagaimanapun setiap lingkungan yang baru pasti memiliki karakteristik yang berbeda dengan lingkungan yang kita tinggalkan sehingga menuntut kita untuk dapat berorientasi dan beradaptasi. Dengan mengenal lingkungan sekolah (akademik atau sosial) diharapkan dalam proses belajar nanti akan lebih nyaman dan konusif karena telah beradaptasi.
Namun seringkali kegitan MOS menyimpang dari tujuan semula, sehingga alih-alih memberi dampak positif malah menimbulkan dampak negatif. Banyak pelaksanaan Kegiatan MOS yang terjebak menjadi ajang “balas dendam” diantara siswa senior dan junior sehingga sangat kental dengan nuansa perploncoan, kekerasan fisik dan bullying. Hal ini dapat terjadi karena dua faktor. Pertama, yakni jika pendekatan yang digunakan masih menggunakan paradigma lama dengan konsep yang kurang mengandung unsur atau nilai edukatif. Kemudian yang kedua, dapat juga karena dalam pelaksanaannya luput dari pengawasan pembina atau guru sehingga panitia yang terdiri atas siswa-siswa senior dapat melakukan tindakan dengan leluasa yang kadang bertentangan dengan nilai pendidikan itu sendiri.
Seringkali dalam kegiatan MOS para siswa baru diberi tugas yang aneh dan unik, yang entah dimana unsur nilai pendidikannya oleh para seniornya. Akibat ulah kakak-kakak seniornya, banyak siswa baru bahkan orang tuanya pun yang merasa kebingungan dan kesulitan untuk memenuhi tugas tersebut. Sehingga MOS sering juga diplesetkan menjadi “ Masa Orangtua Sibuk”. Tentu hal ini bukanlah suatu tujuan dari kegiatan MOS, melainkan hanya bagian dari dampak negatif yang ditimbulkan jika MOS tidak mempunyai konsep yang jelas, hanya sekedar mengikuti tradisi “balas dendam“ saja.
Agar sasaran MOS lebih mengena dan efektif sekaligus lebih fun, kita harus mengubah paradigma lama dalam MOS dengan paradigma atau pendekatan baru. Pendekatan lama yang dilakaukan pada saat MOS biasanya banyak diisi ceramah, penugasan yang aneh-aneh dan hanya merupakan ajang balas dendam saja. MOS yang demikian biasanya tidak memiliki pengaruh apapun terhadap peningkatan IQ maupun EQ dari para siswa baru, yang merupakan bekal dasar dalam meraih sukses disekolah tersebut.
Salah satu metode yang dirasa paling tepat dalam mengisi kegiatan MOS adalah dengan meyisipkan materi pendidikan Outbound kedalamnya. Kegiatan outbound tidak mesti dilakukan ditempat yang jauh dari, tapi dapat juga dilakukan dilingkungan sekolah, tinggal bagaimana kita mengemasnya. Kegiatan outboun tidak juga selalu identik dengan biaya yang besar. Biaya yang digunakan pada saat pelaksaan MOS yang sekarang dengan MOS yang disisip materi outbound tidak akan jauh berbeda.
Banyak materi pendidikan yang bermanfaat untuk melatih daya juang, kebersamaan, kepercayaan diri serta bagaimana mampu berpikir cepat dan tepat dalam menghadapi suatu masalah, yang akan diperoleh para siswa baru. Demikian juga beragam jenis permainan yang dapat dilakukan dalam kegiatan outbound baik berupa adventure game maupun yang beruipa fun game. Adventure game adalah jenis permainan petualangan yang lebih menonjolkan aspek keberanian, permainan ini pada umumnya memiliki tingkat resiko dari menengah (middle impact) sampai dengan resiko tinggi (high impact). Beberapa permainan yang termasuk adventure game diantaranya adalah flying fox, multiline, singleline, web electric, web spider dan sebagainya. Sedangkan fun game merupakan kegiatan yang lebih banyak bersifat menghibur dan mengedapankan kepercayaan, solidaritas atau kebersamaan (team building) dan memiliki tingkat resiko yang rendah (low impact). Beberapa permainan yang termasuk fun game diantaranya : adu yel-yel, mengambil bola dalam pipa, trust fall, terosris channel, SAR, lintas Citarum dan lain sebagainya.
Sebenarnya kegiatan out bound lebih dahulu dimanfaatkan untuk kepentingan kalangan dunia usaha ataupun BUMN dan kantor-kantor tertentu bertujuan untuk meningkatkan personalitas para karyawannya agar dapat lebih produktif atau memiliki etos kerja dan disiplin yang baik.
Outbound hanyalah sebagai salah satu cara agar pelaksanaan MOS dapat lebih efektik, dinamis, edukatif serta fun agar tujuan dan sasaran sebagaimana yang telah ditetapkan dalam MOS tercapai. Disamping itu juga out bound dapat mencegah timbulnya dampak negatif dari kegiatan-kegiatan MOS yang konyol, hanya diwarnai dengan nuansa kekerasan fisik ataupun bullying karena hanya merupakan ajang balas dendam kakak seniornya.
Penulis adalah Praktisi Pendidikan dan Trainer Out Bound “Geo Activity”di Kota Cirebon.
.
Oleh : Indra Yusuf*
Ingar bingar musim Penerimaan Siswa Baru (PSB) telah selesai. Walaupun masih menyisakan sejumlah persoalan terkait transparansi, objektifitas dan terlebih juga rasa kekecewaan, bagi mereka yang tidak dapat melanjutkan kesekolah negeri atau ke sekolah favorit yang diharapkan. Kini kita telah menginjak tahun ajaran baru 2008/2009 dan tentunya harus dibarengi oleh semangat belajar baru dari para siswa baru .
Seperti biasanya awal tahun ajaran baru selalu dimulai dengan pelaksanaan MOS (Masa Orientasi Siswa) atau MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) atau OPSPEK (Orientasi Pengenalan Studi dan Pengenalan Kampus) dilingkungan perguruan tinggi. Sesuai dengan namanya MOS, MPLS dan Opspek memiliki tujuan untuk memperkenalkan lingkungan sekolah sebagai wiyata mandala bagi siswa/mahasiswa baru, sebelum memulai kegiatan belajar/kuliah yang akan ditempuhnya selama masa belajar. Termasuk didalamnya tentu juga dikenalkan dengan kurikulum (program penjurusan), budaya sekolah, warga sekolah, kedisiplinan dan tatatertib sekolah.
Dilihat dari tujuannya tentu kegiatan MOS sangatlah positif dan penting untuk dilaksanakan dalam setiap memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Karena bagaimanapun setiap lingkungan yang baru pasti memiliki karakteristik yang berbeda dengan lingkungan yang kita tinggalkan sehingga menuntut kita untuk dapat berorientasi dan beradaptasi. Dengan mengenal lingkungan sekolah (akademik atau sosial) diharapkan dalam proses belajar nanti akan lebih nyaman dan konusif karena telah beradaptasi.
Namun seringkali kegitan MOS menyimpang dari tujuan semula, sehingga alih-alih memberi dampak positif malah menimbulkan dampak negatif. Banyak pelaksanaan Kegiatan MOS yang terjebak menjadi ajang “balas dendam” diantara siswa senior dan junior sehingga sangat kental dengan nuansa perploncoan, kekerasan fisik dan bullying. Hal ini dapat terjadi karena dua faktor. Pertama, yakni jika pendekatan yang digunakan masih menggunakan paradigma lama dengan konsep yang kurang mengandung unsur atau nilai edukatif. Kemudian yang kedua, dapat juga karena dalam pelaksanaannya luput dari pengawasan pembina atau guru sehingga panitia yang terdiri atas siswa-siswa senior dapat melakukan tindakan dengan leluasa yang kadang bertentangan dengan nilai pendidikan itu sendiri.
Seringkali dalam kegiatan MOS para siswa baru diberi tugas yang aneh dan unik, yang entah dimana unsur nilai pendidikannya oleh para seniornya. Akibat ulah kakak-kakak seniornya, banyak siswa baru bahkan orang tuanya pun yang merasa kebingungan dan kesulitan untuk memenuhi tugas tersebut. Sehingga MOS sering juga diplesetkan menjadi “ Masa Orangtua Sibuk”. Tentu hal ini bukanlah suatu tujuan dari kegiatan MOS, melainkan hanya bagian dari dampak negatif yang ditimbulkan jika MOS tidak mempunyai konsep yang jelas, hanya sekedar mengikuti tradisi “balas dendam“ saja.
Agar sasaran MOS lebih mengena dan efektif sekaligus lebih fun, kita harus mengubah paradigma lama dalam MOS dengan paradigma atau pendekatan baru. Pendekatan lama yang dilakaukan pada saat MOS biasanya banyak diisi ceramah, penugasan yang aneh-aneh dan hanya merupakan ajang balas dendam saja. MOS yang demikian biasanya tidak memiliki pengaruh apapun terhadap peningkatan IQ maupun EQ dari para siswa baru, yang merupakan bekal dasar dalam meraih sukses disekolah tersebut.
Salah satu metode yang dirasa paling tepat dalam mengisi kegiatan MOS adalah dengan meyisipkan materi pendidikan Outbound kedalamnya. Kegiatan outbound tidak mesti dilakukan ditempat yang jauh dari, tapi dapat juga dilakukan dilingkungan sekolah, tinggal bagaimana kita mengemasnya. Kegiatan outboun tidak juga selalu identik dengan biaya yang besar. Biaya yang digunakan pada saat pelaksaan MOS yang sekarang dengan MOS yang disisip materi outbound tidak akan jauh berbeda.
Banyak materi pendidikan yang bermanfaat untuk melatih daya juang, kebersamaan, kepercayaan diri serta bagaimana mampu berpikir cepat dan tepat dalam menghadapi suatu masalah, yang akan diperoleh para siswa baru. Demikian juga beragam jenis permainan yang dapat dilakukan dalam kegiatan outbound baik berupa adventure game maupun yang beruipa fun game. Adventure game adalah jenis permainan petualangan yang lebih menonjolkan aspek keberanian, permainan ini pada umumnya memiliki tingkat resiko dari menengah (middle impact) sampai dengan resiko tinggi (high impact). Beberapa permainan yang termasuk adventure game diantaranya adalah flying fox, multiline, singleline, web electric, web spider dan sebagainya. Sedangkan fun game merupakan kegiatan yang lebih banyak bersifat menghibur dan mengedapankan kepercayaan, solidaritas atau kebersamaan (team building) dan memiliki tingkat resiko yang rendah (low impact). Beberapa permainan yang termasuk fun game diantaranya : adu yel-yel, mengambil bola dalam pipa, trust fall, terosris channel, SAR, lintas Citarum dan lain sebagainya.
Sebenarnya kegiatan out bound lebih dahulu dimanfaatkan untuk kepentingan kalangan dunia usaha ataupun BUMN dan kantor-kantor tertentu bertujuan untuk meningkatkan personalitas para karyawannya agar dapat lebih produktif atau memiliki etos kerja dan disiplin yang baik.
Outbound hanyalah sebagai salah satu cara agar pelaksanaan MOS dapat lebih efektik, dinamis, edukatif serta fun agar tujuan dan sasaran sebagaimana yang telah ditetapkan dalam MOS tercapai. Disamping itu juga out bound dapat mencegah timbulnya dampak negatif dari kegiatan-kegiatan MOS yang konyol, hanya diwarnai dengan nuansa kekerasan fisik ataupun bullying karena hanya merupakan ajang balas dendam kakak seniornya.
Penulis adalah Praktisi Pendidikan dan Trainer Out Bound “Geo Activity”di Kota Cirebon.

1 komentar:
Terima kasih buat update artikelnya tentang:
POLEMIK PERPELONCOAN SAAT MOS SISWA BARU
Cara Mencegah Praktek Perpeloncoan
Reportase Pendidikan
Kabar Guru Indonesia
Istilah MOS Diganti PLS Sesuai Permendikbud
Posting Komentar