Museum sebagai Sumber PembelajaranOleh Indra Yusuf
Beberapa waktu lalu di Kota Cirebon diselenggarakan roadshow museum, yaitu Pameran Keliling Bersama Museum Sri Baduga Bandung. Bagi masyarakat Cirebon khususnya dunia pendidikan Kota Cirebon dan wilayah sekitarnya, hal itu memiliki arti tersendiri. Acara tersebut dapat dijadikan momentum untuk memperkenalkan kekayaan budaya daerah sekaligus menunjukkan eksistensi budaya masyarakat Jabar kepada para siswa sebagai generasi muda.
Pameran yang diselenggarakan di Aula Pusdiklatpri itu diikuti beberapa museum dan instansi di Jabar dan Jakarta, seperti Museum Sri Baduga, Museum Geologi, Museum Basoeki Abdullah, Museum Kasepuhan, Museum Kanoman, Balai Arkeologi, serta Balai Pengelolaan Kepurbakalaan Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung.
Penyelenggaraan acara ini didorong oleh beberapa hal yang sangat memprihatinkan terkait dengan rendahnya minat masyarakat mengunjungi museum. Di samping faktor masih rendahnya partisipasi guru dalam memanfaatkan museum sebagai sumber pembelajaran. Padahal, pihak museum telah mencoba dengan membuka diri dan melakukan berbagai promosi, termasuk melakukan roadshow seperti yang sekarang dilakukan Museum Sri Baduga.
Kurang atraktif
Dari segi besarnya biaya yang dikeluarkan, berkunjung ke museum merupakan wisata yang relatif murah karena harga tiket tergolong rendah. Namun, kenapa jika kita diminta mengurutkan prioritas tujuan wisata, berkunjung ke museum merupakan pilihan terakhir?
Beragam alasan muncul terkait dengan rendahnya minat masyarakat, di antaranya adalah kurang atraktifnya museum dalam menampilkan koleksinya; banyak koleksi yang tidak terawat; museum tidak dikelola sebagaimana tempat wisata sehingga para pengunjung cepat mengalami kejenuhan. Semestinya museum dikelola sebagaimana layaknya obyek wisata yang harus menyediakan berbagai kebutuhan pengunjung (baca: wisatawan).
Hal-hal yang harus dipenuhi adalah terkait dengan what to see, what to do, what to buy, dan how to be there. Berbeda dengan masyarakat di negara lain. Sebagai contoh dan bahan perbandingan, selama tahun 2006 Museum Nasional Jakarta dikunjungi sekitar 127.875 pengunjung, sedangkan Museum Nasional Louvre Paris, Perancis, dikunjungi 8,3 juta pengunjung (Kompas, 10/5/07).
Sementara itu, proses pembelajaran di museum dapat dijadikan sumber belajar yang tepat dan sangat menarik, terutama bagi guru yang mengajar bidang ilmu sosial. Sebab, museum adalah lembaga, tempat penyimpanan, perawatan, pengamanan, dan pemanfaatan benda-benda bukti materiil hasil budaya manusia, serta alam dan lingkungannya guna menunjang upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya bangsa (Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1995 tentang Pemeliharaan dan Pemanfaatan Benda Cagar Budaya di Museum).
Sebagaimana kita ketahui, dalam proses pembelajaran di kelas, guru sering kali menghadapi hambatan-hambatan yang berkaitan dengan media pembelajaran dan sumber belajar, khususnya ketika guru menjelaskan materi yang tidak bisa disampaikan melalui ceramah (verbalisme) saja sehingga materi akan terkesan abstrak. Mungkin untuk mata pelajaran sains, seperti Fisika, Kimia, dan Biologi, akan sedikit teratasi karena memang di sekolah-sekolah pada umumnya telah memiliki laboratorium khusus untuk mata pelajaran tersebut.
Akan tetapi, bagaimana dengan mata pelajaran sosial, seperti Sejarah, Geografi, Sosiologi, Antropologi, ataupun Ekonomi, yang pada umumnya tidak memiliki laboratorium. Tidak sedikit guru ilmu sosial berperan sebagai satu-satunya sumber untuk memperoleh pelajaran, yang kemudian cara belajar dengan mendengarkan ceramah merupakan wujud interaksi yang dominan.
Efektivitas belajar hanya dengan mendengarkan patut diragukan. Bahkan, ada ungkapan yang mengatakan, "Saya mendengar saya lupa; saya melihat saya ingat; saya berbuat saya bisa". Hal tersebut didukung hasil penelitian pakar pendidikan Edgar Dale yang membuat klasifikasi tingkatan pengalaman dari yang paling konkret sampai yang paling abstrak. Klasifikasi itu dikenal dengan nama kerucut pengalaman (cone of experience).
Menurut dia, verbalisme merupakan tingkatan yang paling rendah dalam membentuk pemahaman ilmu pengetahuan, sedangkan observasi atau pengamatan langsung merupakan tingkatan paling tinggi. Dengan demikian, proses pembelajaran di dalam kelas tidak selamanya efektif tanpa adanya pengalaman langsung yang dapat memperkuat pemahaman siswa terhadap materi yang diberikan.
Pengalaman langsung
Studi di luar kelas atau observasi merupakan upaya memberikan pengalaman langsung kepada siswa yang dapat dilakukan dengan mengunjungi museum atau instansi-instansi tertentu yang terkait dengan materi pelajaran.
Kegiatan observasi atau pengamatan yang dilakukan siswa di museum merupakan bentuk studi di luar kelas yang sangat bermanfaat dan dapat melahirkan suatu gagasan dan ide baru. Sebab, dalam kegiatan ini siswa dirangsang menggunakan kemampuannya dalam berpikir kritis secara optimal.
Kemampuan berpikir siswa tersebut, menurut Takai dan Connor (1998), meliputi pertama, kemampuan mengenal persamaan dan perbedaan pada obyek yang diamati (comparing and contrasting). Kedua, kemampuan mengidentifikasi dan mengelompokkan obyek yang diamati pada kelompok seharusnya (identifying and classifying).
Ketiga, kemampuan menyampaikan deskripsi secara lisan dan tulisan berkenaan dengan obyek yang diamati (describing). Keempat, kemampuan memprakirakan apa yang terjadi berkenaan dengan obyek yang diamati (predicting). Kelima, kemampuan membuat kesimpulan dari informasi yang diperoleh di museum dalam sebuah laporan secara singkat dan padat (summarizing).
Studi di luar kelas tidak selamanya berupa karyawisata atau darmawisata yang memakan waktu lama dan biaya yang tidak sedikit. Studi di luar kelas yang dapat dilakukan dengan waktu sempit dan berbiaya relatif murah adalah berkunjung ke museum.
Studi di luar kelas dapat juga dilakukan di sekitar lingkungan sekolah ataupun wilayah lain sesuai dengan kebutuhan. Dengan demikian, guru dituntut dapat mengusahakan agar setiap siswa dapat berinteraksi secara aktif dan langsung dengan berbagai sumber belajar. Sumber belajar itu dapat berupa sumber belajar yang dirancang (learning resources by design) atau sumber belajar yang tersedia dan tinggal dimanfaatkan (learning resources by utilization) seperti museum.
INDRA YUSUF Pengasuh Redaksi Majalah Optimis SMA Negeri 7 Cirebon; Anggota AGP-PGRI Jawa Barat (Tulisan ini telah dimuat pada harian Kompas tanggal 27 September 2007)
.
Beberapa waktu lalu di Kota Cirebon diselenggarakan roadshow museum, yaitu Pameran Keliling Bersama Museum Sri Baduga Bandung. Bagi masyarakat Cirebon khususnya dunia pendidikan Kota Cirebon dan wilayah sekitarnya, hal itu memiliki arti tersendiri. Acara tersebut dapat dijadikan momentum untuk memperkenalkan kekayaan budaya daerah sekaligus menunjukkan eksistensi budaya masyarakat Jabar kepada para siswa sebagai generasi muda.
Pameran yang diselenggarakan di Aula Pusdiklatpri itu diikuti beberapa museum dan instansi di Jabar dan Jakarta, seperti Museum Sri Baduga, Museum Geologi, Museum Basoeki Abdullah, Museum Kasepuhan, Museum Kanoman, Balai Arkeologi, serta Balai Pengelolaan Kepurbakalaan Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung.
Penyelenggaraan acara ini didorong oleh beberapa hal yang sangat memprihatinkan terkait dengan rendahnya minat masyarakat mengunjungi museum. Di samping faktor masih rendahnya partisipasi guru dalam memanfaatkan museum sebagai sumber pembelajaran. Padahal, pihak museum telah mencoba dengan membuka diri dan melakukan berbagai promosi, termasuk melakukan roadshow seperti yang sekarang dilakukan Museum Sri Baduga.
Kurang atraktif
Dari segi besarnya biaya yang dikeluarkan, berkunjung ke museum merupakan wisata yang relatif murah karena harga tiket tergolong rendah. Namun, kenapa jika kita diminta mengurutkan prioritas tujuan wisata, berkunjung ke museum merupakan pilihan terakhir?
Beragam alasan muncul terkait dengan rendahnya minat masyarakat, di antaranya adalah kurang atraktifnya museum dalam menampilkan koleksinya; banyak koleksi yang tidak terawat; museum tidak dikelola sebagaimana tempat wisata sehingga para pengunjung cepat mengalami kejenuhan. Semestinya museum dikelola sebagaimana layaknya obyek wisata yang harus menyediakan berbagai kebutuhan pengunjung (baca: wisatawan).
Hal-hal yang harus dipenuhi adalah terkait dengan what to see, what to do, what to buy, dan how to be there. Berbeda dengan masyarakat di negara lain. Sebagai contoh dan bahan perbandingan, selama tahun 2006 Museum Nasional Jakarta dikunjungi sekitar 127.875 pengunjung, sedangkan Museum Nasional Louvre Paris, Perancis, dikunjungi 8,3 juta pengunjung (Kompas, 10/5/07).
Sementara itu, proses pembelajaran di museum dapat dijadikan sumber belajar yang tepat dan sangat menarik, terutama bagi guru yang mengajar bidang ilmu sosial. Sebab, museum adalah lembaga, tempat penyimpanan, perawatan, pengamanan, dan pemanfaatan benda-benda bukti materiil hasil budaya manusia, serta alam dan lingkungannya guna menunjang upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya bangsa (Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1995 tentang Pemeliharaan dan Pemanfaatan Benda Cagar Budaya di Museum).
Sebagaimana kita ketahui, dalam proses pembelajaran di kelas, guru sering kali menghadapi hambatan-hambatan yang berkaitan dengan media pembelajaran dan sumber belajar, khususnya ketika guru menjelaskan materi yang tidak bisa disampaikan melalui ceramah (verbalisme) saja sehingga materi akan terkesan abstrak. Mungkin untuk mata pelajaran sains, seperti Fisika, Kimia, dan Biologi, akan sedikit teratasi karena memang di sekolah-sekolah pada umumnya telah memiliki laboratorium khusus untuk mata pelajaran tersebut.
Akan tetapi, bagaimana dengan mata pelajaran sosial, seperti Sejarah, Geografi, Sosiologi, Antropologi, ataupun Ekonomi, yang pada umumnya tidak memiliki laboratorium. Tidak sedikit guru ilmu sosial berperan sebagai satu-satunya sumber untuk memperoleh pelajaran, yang kemudian cara belajar dengan mendengarkan ceramah merupakan wujud interaksi yang dominan.
Efektivitas belajar hanya dengan mendengarkan patut diragukan. Bahkan, ada ungkapan yang mengatakan, "Saya mendengar saya lupa; saya melihat saya ingat; saya berbuat saya bisa". Hal tersebut didukung hasil penelitian pakar pendidikan Edgar Dale yang membuat klasifikasi tingkatan pengalaman dari yang paling konkret sampai yang paling abstrak. Klasifikasi itu dikenal dengan nama kerucut pengalaman (cone of experience).
Menurut dia, verbalisme merupakan tingkatan yang paling rendah dalam membentuk pemahaman ilmu pengetahuan, sedangkan observasi atau pengamatan langsung merupakan tingkatan paling tinggi. Dengan demikian, proses pembelajaran di dalam kelas tidak selamanya efektif tanpa adanya pengalaman langsung yang dapat memperkuat pemahaman siswa terhadap materi yang diberikan.
Pengalaman langsung
Studi di luar kelas atau observasi merupakan upaya memberikan pengalaman langsung kepada siswa yang dapat dilakukan dengan mengunjungi museum atau instansi-instansi tertentu yang terkait dengan materi pelajaran.
Kegiatan observasi atau pengamatan yang dilakukan siswa di museum merupakan bentuk studi di luar kelas yang sangat bermanfaat dan dapat melahirkan suatu gagasan dan ide baru. Sebab, dalam kegiatan ini siswa dirangsang menggunakan kemampuannya dalam berpikir kritis secara optimal.
Kemampuan berpikir siswa tersebut, menurut Takai dan Connor (1998), meliputi pertama, kemampuan mengenal persamaan dan perbedaan pada obyek yang diamati (comparing and contrasting). Kedua, kemampuan mengidentifikasi dan mengelompokkan obyek yang diamati pada kelompok seharusnya (identifying and classifying).
Ketiga, kemampuan menyampaikan deskripsi secara lisan dan tulisan berkenaan dengan obyek yang diamati (describing). Keempat, kemampuan memprakirakan apa yang terjadi berkenaan dengan obyek yang diamati (predicting). Kelima, kemampuan membuat kesimpulan dari informasi yang diperoleh di museum dalam sebuah laporan secara singkat dan padat (summarizing).
Studi di luar kelas tidak selamanya berupa karyawisata atau darmawisata yang memakan waktu lama dan biaya yang tidak sedikit. Studi di luar kelas yang dapat dilakukan dengan waktu sempit dan berbiaya relatif murah adalah berkunjung ke museum.
Studi di luar kelas dapat juga dilakukan di sekitar lingkungan sekolah ataupun wilayah lain sesuai dengan kebutuhan. Dengan demikian, guru dituntut dapat mengusahakan agar setiap siswa dapat berinteraksi secara aktif dan langsung dengan berbagai sumber belajar. Sumber belajar itu dapat berupa sumber belajar yang dirancang (learning resources by design) atau sumber belajar yang tersedia dan tinggal dimanfaatkan (learning resources by utilization) seperti museum.
INDRA YUSUF Pengasuh Redaksi Majalah Optimis SMA Negeri 7 Cirebon; Anggota AGP-PGRI Jawa Barat (Tulisan ini telah dimuat pada harian Kompas tanggal 27 September 2007)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar