
Oleh : Indra Yusuf
DATA BUKU
Judul : Jerusalem, Kesucian, Konflik, dan Pengadilan Terakhir
Penulis : Trias Kuncahyono
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Cetakan ke – 4, Juli 2008
Tebal Halaman : xxxix + 316
Beberapa waktu lalu, Penulis berkesempatan menghadiri acara diskusi buku yang diselenggarakan oleh Redaksi Kompas Jabar di Bandung. Buku yang didiskusikan berjudul “Jerusalem, Kesucian, Konflik dan Pengadilan Terakhir. Buku tersebut ditulis oleh seorang wartawan Kompas, yang kini menjadi Wakil Pemimpin Redaksi Kompas, yakni Mas Trias Kuncahyono. Hadir sebagai pembicara diskusi buku tersebut antara lain Prof. Dr. A. Agung Banyu Perwita, PhD. Guru Besar UNPAR Bandung, Prof. Dr. H. Nanat Fatah Natsir, Msi. Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan Zuhairi Misrawi, Intelektual Muda NU yang juga sebagai Executive DirectorModerate Moslem Society serta Penulis buku itu sendiri Trias Kuncahyono. Buku ini berisi pemaparan tentang Jerusalem sebagai kota suci tiga agama samawi : Yudaisme, Kristen dan Islam. Karena disana terdapat beberapa tempat suci yang biasa dijadikan tempat berziarah bagi ketiga umat tersebut, diantaranya seperti Tembok Ratapan (Wailing Wall), Gereja Makam Kristus, Masjid Al-Aqsha dan Dome of The Rock. Disamping itu juga buku ini menyajikan informasi secara mendalam dan menyeluruh tentang Jerusalem. Selain kaya muatan sejarah juga menyiratkan pesan akan arti pentingnya perdamaian dan melihat Jerusalem secara lebih mendalam. Jerusalem memiliki sejarah penting tidak saja bagi pengikut tiga agama samawi tersebut, melainkan bagi seluruh umat manusia di muka bumi. Kota Jerusalem juga memiliki sejarah yang panjang. Temuan sejarah membuktikan bahwa pada tahun 3000 SM, tempat itu sudah ditinggali dan diyakini pertama kali dibangun oleh orang Kanaan. Dan sejak itu hingga kini, Jerusalem terus diperebutkan, menjadi sumber konflik, sumber permusuhan umat manusia dari generasi ke generasi, dari masa ke masa, dari zaman ke zaman. Kota ini telah ditaklukan dan dihancurkan serta dibangun kembali selama berkali-kali. Selama 30 abad terakhir, sudah lebih dari 20 kali kota ini ditaklukan dan dihancurkan untuk kemudian dibangun lagi. Sepanjang masa itu pula sejarah Jerusalem menyisakan banyak hal tentang :kasih, kebencian dan kegairahan. Sementara menurut Zuhairi Misrawi, baru ada tiga buku dari lebih kurang 1703 buku tentang Jerusalem yang dalam pemaparannya menggunakan hati nurani (‘ayn al-ridha), bukan menggunakan mata kebencian (ayn al sukhth). Salah satunya buku yang ditulis Mas Trias Kuncahyono yang bejudul : “Jerusalem, Kesucian, Konflik dan Pengadilan Akhir”, sehingga dari buku tersebut kita dapat melihat Jerusalem dari tiga kacamata sekaligus yaitu, Islam, Kristen dan Yahudi. Dua buku lain yang tentang Jerusalem yang ditulis secara objektif dan simpatik yaitu Jerusalem: One City, Three Faiths karya Karens Amstrong dan The Crusade: Islamic Perspective yang ditulis oleh Carole Hillenbrand. Kelebihan buku ini selain isi tema yang sangat menarik, juga dalam hal gaya penulisannya. Karena Buku ini merupakan hasil karya dari seorang jurnalis, sehingga cara pemaparannya kaya warna, dan memiliki gaya jurnalistik yang dialogis. Sehingga pembaca dapat menikmatinya dengan dari beberapa sudut pandang : sejarah, politik internasional, atau gaya jurnalistiknya sendiri. Lebih lanjut dalam bukunya, Penulis ingin menyampaikan bahwa untuk mencapai pluralisme dan perdamaian diperlukannya membangun dua pondasi. Pertama, adalah perlunya pengakuan terhadap perbedaan itu sendiri. Kedua, adanya kehendak untuk hidup berdampingan secara damai. Sepanjang sejarah bahkan sampai dengan sekarang Jerusalem selalu berada di pusat pusaran konflik geopolitik, yang dimanifestasikan oleh Yahudi dan Palestina atas dominasi kota tersebut. Baik Orang Yahudi, Kristen maupun Islam sama-sama mengkalim yang berhak atas Jerusalem. Orang-orang Yahudi mendasarkan klaimnya kembali pada peristiwa yang terjadi pada abad 11 SM tatkala Raja Daud mengalahkan dan merebut kota itu. Orang-orang kristiani mensucikan kota Jerusalem karena merupakan tempat penyaliban, serta kebangkitannya. Umat Muslim sendiri menjadikan Jerusalem sebagai salah satu dari 3 kota suci karena di kota itu Nabi Muhammad SAW melakukan Isra-Mi’raj, yakni perjalanan spritual dari Mekkah (Masjidil Haram) ke Masjidil Aqsha dan kemudian Mi’raj ke Sidrat Al-Muntaha. Dalam bab terakhir diuraikan tentang upaya-upaya penyelesaian masalah Jerusalem di panggung internasional. Berbagai perundingan damai telah dilakukan Antara keduanya, dan memutuskan siapa pemilik Jerusalem. Tetapi, semua perundingan, sejumlah resolusi yang diterbitkan oleh Majelis Umum PBB dan Dewan Keamanan PBB tidak juga mampu mengakhiri konflik yang ada antara kedua bangsa itu. Sampai kapan konflik itu akan terus bergelora ? Tidak ada yang dapat menjawab secara pasti. Sejaralah yang akan menjadi saksi tentang apa yang terjadi di masa depan. Namun yang menjadi pertanyaan, yang tidak dijelaskan dalam buku ini adalah mengapa dalam tataran mikro Kota Jerusalem merupakan sebuah inspirasi bagi pluralisme dan perdamaian. Sedangkan dalam tataran makro Kota Jerusalem justru tetap menjadi sumber pertentangan dan konflik. ***
(Resensi ini telah dimuat di Harian Mitra Dialog tanggal 2 Agustus 2008)

1 komentar:
resensi bukunya cukup menarik sehingga membuat kita ingin tahu lebih dalam tentang jerusalem
Posting Komentar