
Pelajaran dari Kemenangan Hade
Oleh ; Indra Yusuf*
Kemenangan pasangan Hade dalam Pilgub Jabar tentu mengagetkan semua pihak.
Apalagi lawan yang mereka hadapi adalah para calon incumbent yang berkolaborasi dengan para jendral yang telah lama berkecimpung dalam kancah politik nasional. Pasangan yang ada sebenarnya sudah sangat ideal antara unsur birokrat dan militer. Ditambah lagi kedua pasangan tersebut diusung oleh parpol besar yang mempunyai perolehan suara besar pula di Jawa Barat. Seperti Partai Golkar yang mendukung pasangan Da’i dan PDIP yang mendukung pasangan Aman. Rasanya lengkap sudah hitungan secara matematis-politis untuk mengantarkan pada sebuah kemenangan Para akademisi, pengamat dan pakar politik pun sebagian besar memproyeksikankan pasangan Da’i atau Aman yang bakal memenangkan pikada Jabar ini.
Namun semuanya tercengang tatkala hasil perhitungan cepat (quick qount) beberapa lembaga menunjukan keunggulan pasangan Hade. Kemenangan yang kian nyata itu begitu fenomenal sehingga menarik semua pihak untuk dapat mengambil pelajaran dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Dari 5 lembaga yang melakukan perhitungan secara cepat, semuanya mengunggulkan pasangan Hade. Kelima lembaga tersebut adalah : Litbang Kompas (Da,i : 24,30%, Aman : 35,34% dan Hade 40,37%), Lingkaran Survei Indonesia-LSI (Da,i : 24,75%, Aman : 35,31% dan Hade 39,94%), Pusat Studi Demokrasi dan HAM Surabaya (Da,i : 25,60%, Aman : 35,42% dan Hade 38,98%), Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Da,i : 25,25%, Aman : 33,02% dan Hade 41,74%) dan Lembaga Survei Indonesia (Da,i : 25,08%, Aman : 35,46% dan Hade 39,46%), (Kompas, 14/04).
Kemenangan pasangan Hade juga menyiratkan banyak makna yang dapat kita tafsirkan. Makna yang muncul terkait dengan beberapa fenomena yang saat ini berkembang di masyarakat Jawa Barat pada khususnya, dan bukan tidak mungkin menjadi fenomena masyarakat di seluruh Indonesia. Fenomena tersebut menjadi indikator bahwa sebagian besar masyarakat jabar kecewa terhadap jalannya pemerintahan dibawah calon incumbent. Masyarakat menilai kepemimpinan saat ini gagal dalam mewujudkan Jawa Barat yang gemah ripah repeh rapih. Sebagaimana dirasakan masyarakat Jabar saat ini, yakni melambungnya harga-harga kebutuhan bahan pokok sehingga tingkat daya beli masyarakat merosot tajam.
Pertumbuhan ekonomi Jabar sendiri pada periode 2003-2007 masih lebih rendah dibandingkan inflasi tahunan di Jabar. Kondisi ini mengakibatkan perbaikan ekonomi di Jabar belum terlihat akibat kenaikan harga. Pertumbuhan ekonomi Jabar periode 2003-2007 tiap tahunnya rata-rata 5,53 % sedangkan tingkat inflasi pertahun mencapai 8,6 % pertahun (Kompas, 28/04). Tingkat pengangguran yang kian membengkak merupakan ketidakmampuan pemerintah dalam memenuhi kebutuhan lapangan kerja bagi masyarakatnya. Demikian juga di bidang kesehatan, masayarakat kecil masih mengalami kesulitan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang murah dan berkualitas.
Terlebih lagi di bidang pendidikan yang masih menyisakan sejumlah permasalahan yang seakan tak ada ujung pangkalnya. Gedung-gedung sekolah yang rusak dan tidak layak masih dengan mudah kita temui disetiap daerah, bahkan beberapa waktu yang lalu sebuah bangunan sekolah roboh dan ini tejadi di Kota Bandung yang notabene merupakan pusat pemerintahan Jabar. Hal lain yang menyangkut pendidikan adalah ketercapaian indeks pendidikan di Jawa Barat pun yang belum optimal. Berdasarkan data Bapeda dan BPS Provinsi Jawa Barat tahun 2003-2006 realisasi indeks pendidikan masih dua point dibawah target.
Angka partisipasi sekolah di Jabar pun masih rendah. Pada tahun 2007 dari 10,12 juta penduduk usia sekolah, hanya 78,2 persen yang mengenyam pendidikan sedangkan sisanya belum terjangkau oleh pendidikan. Partisipasi sekolah untuk tingkat menengah merupakan yang paling rendah yakni hanya 39,42 % dari 2,4 juta penduduk usia 16-18 tahun. Faktor utama rendahnya angka partisipasi sekolah menengah karena mereka lebih memilih bekerja untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga dari bersekolah. Tahun 2007 di Jabar tercatat hampir 2 juta tingkat SLTA dan SLTP (kompas, 25/03). Indikator lain yang menunjukan bahwa pendidikan belum menjadi perhatian utama pemerintah Jawa Barat saat ini adalah belum terpenuhinya alokasi 20% dari APBD.
Kemenangan pasangan Hade juga dapat disimpulkan bahwa masyarakat menginginkan perubahan yang signifikan terhadap tingkat kesejahteraanya. Yang selama ini tidak mereka dapatkan dari pemerintah sebelumnya. Mereka juga beranggapan pembaharuan dan harapan baru yang dicita-citakan masyarakat hanya dapat tecapai oleh pemimpin yang baru. Pemimpin baru tentu sangat dekat asosiasinya dengan pasangan Hade mengingat dua calon lainnya merupakan Incumbent. Pemimpin baru mempunyai kelebihan karena mereka belum terbebani oleh kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan pada saat memerintah atau dengan kata memiliki track record yang bersih. Sehingga dalam mengeluarkan kebijakan yag berpihak pada rakyat kecil pun tidak akan ragu-ragu lagi.
Saat ini masayarakat mulai kritis dan menyadari, bahwa selama ini hanya dijadikan sebagai objek demokrasi oleh parpol-parpol besar. Hanya dibutuhkan ketika menjelang pilkada atau pemilihan umum. Setelah itu kembali masyarakat di campakan, ibarat kacang lupa kulitnya. Sehingga masyarakat mulai tertarik pada parpol kecil yang terlihat komitmen dalam memperjuangkan nasib rakyat dan terkesan bersih. Masyarakat sudah mengalami kejenuhan terhadap janji-janji yang berikan. Sementara dari hari ke hari tetap saja tidak ada perubahan yang berarti dalam kehidupannya. Lapangan kerja masih sulit harga barang yang terus melonjak tak terkendali adalah realitas yang dekat dan dirasakan masyarakat selama ini.
Kekecewaan masyarakat terhadap pemerintahan statusquo juga ditunjukan dengan turunnya partisipasi pemilih dalam Pilgub Jabar. Masih berdasarkan hasil perhitungan litbang Kompas , partisipasi pemilih pilgub Jabar hanya mencapai 65 persen. Jauh dibandingkan dengan partisipasi pemilu legislatif 2004 dan pemilu 1999 yang mencapai angka masing-masing 80 dan 90 persen. Ini juga pertanda yang perlu diwaspadai ketika masyarakat mulai apatis dalam setiap penyelnggaraan pesta demokrasi.
Faktor lain yang menjadi menyumbangkan kemenangan bagi pasangan Hade adalah usia dari para calon yang relatif masih muda dibandingkan dengan para calon lainnya. Usia yang muda menyiratkan adanya semangat dan idealisme yang kuat dibandingkan yang lebih tua dalam membangun daerah dan masyarakatnya. Apalagi rekam jejak mereka yang muda masih relatif bersih. Sehingga tidak akan sungkan-sungkan lagi dalam memberantas korupsi dan membangun citra birokrasi yang bersih.
Kemenangan Hade juga setidaknya dapat dijadikan introspeksi bagi calon incumbent dan partai-partai politik dalam memberikan pembelajaran politik bagi rakyatnya. Kemenangan Hade bukanlah kemenangan PKS ataupun PAN melainkan kemenangan seluruh masyarakat Jawa Barat. Mudah-mudahan Hade dapat membawa perubahan kearah yang lebih baik bagi masyarakat Jawa Barat umumnya dan masyarakat Cirebon pada khususnya. Sehingga pantura tidak lagi merasa menjadi anak tiri Jawa Barat.
Penulis adalah Peminat Masalah Sosial Politik.
(Tulisan ini telah dimuat pada Harian Mitra Dialog, 24 April 2008)
.
Kemenangan pasangan Hade dalam Pilgub Jabar tentu mengagetkan semua pihak.
Karena sudah sejak awal pasangan ini tidak masuk dalam kalkulasi sebagai pasangan yang bakal memenangkan pilkada. Hal ini wajar karena pasangan Hade didukung koalisi PAN dan PKS yang tidak memiliki suara yang signifikan dalam pemilu legislatif di Jawa Barat pada tahun 2004 lalu. Sementara pasangan Aman merupakan koalisi terbesar yang mengantongi 41,5 persen dari total suara. Koalisi tersebut terdiri atas 3 parpol besar (PDIP, PPP dan PKB) dan 4 parpol lainnya. Demikian juga dengan pasangan Da’i yang memiliki modal cukup besar dengan dukungan Partai Golkar dan Demokrat yang mencapai angka 36 persen.Apalagi lawan yang mereka hadapi adalah para calon incumbent yang berkolaborasi dengan para jendral yang telah lama berkecimpung dalam kancah politik nasional. Pasangan yang ada sebenarnya sudah sangat ideal antara unsur birokrat dan militer. Ditambah lagi kedua pasangan tersebut diusung oleh parpol besar yang mempunyai perolehan suara besar pula di Jawa Barat. Seperti Partai Golkar yang mendukung pasangan Da’i dan PDIP yang mendukung pasangan Aman. Rasanya lengkap sudah hitungan secara matematis-politis untuk mengantarkan pada sebuah kemenangan Para akademisi, pengamat dan pakar politik pun sebagian besar memproyeksikankan pasangan Da’i atau Aman yang bakal memenangkan pikada Jabar ini.
Namun semuanya tercengang tatkala hasil perhitungan cepat (quick qount) beberapa lembaga menunjukan keunggulan pasangan Hade. Kemenangan yang kian nyata itu begitu fenomenal sehingga menarik semua pihak untuk dapat mengambil pelajaran dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Dari 5 lembaga yang melakukan perhitungan secara cepat, semuanya mengunggulkan pasangan Hade. Kelima lembaga tersebut adalah : Litbang Kompas (Da,i : 24,30%, Aman : 35,34% dan Hade 40,37%), Lingkaran Survei Indonesia-LSI (Da,i : 24,75%, Aman : 35,31% dan Hade 39,94%), Pusat Studi Demokrasi dan HAM Surabaya (Da,i : 25,60%, Aman : 35,42% dan Hade 38,98%), Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Da,i : 25,25%, Aman : 33,02% dan Hade 41,74%) dan Lembaga Survei Indonesia (Da,i : 25,08%, Aman : 35,46% dan Hade 39,46%), (Kompas, 14/04).
Kemenangan pasangan Hade juga menyiratkan banyak makna yang dapat kita tafsirkan. Makna yang muncul terkait dengan beberapa fenomena yang saat ini berkembang di masyarakat Jawa Barat pada khususnya, dan bukan tidak mungkin menjadi fenomena masyarakat di seluruh Indonesia. Fenomena tersebut menjadi indikator bahwa sebagian besar masyarakat jabar kecewa terhadap jalannya pemerintahan dibawah calon incumbent. Masyarakat menilai kepemimpinan saat ini gagal dalam mewujudkan Jawa Barat yang gemah ripah repeh rapih. Sebagaimana dirasakan masyarakat Jabar saat ini, yakni melambungnya harga-harga kebutuhan bahan pokok sehingga tingkat daya beli masyarakat merosot tajam.
Pertumbuhan ekonomi Jabar sendiri pada periode 2003-2007 masih lebih rendah dibandingkan inflasi tahunan di Jabar. Kondisi ini mengakibatkan perbaikan ekonomi di Jabar belum terlihat akibat kenaikan harga. Pertumbuhan ekonomi Jabar periode 2003-2007 tiap tahunnya rata-rata 5,53 % sedangkan tingkat inflasi pertahun mencapai 8,6 % pertahun (Kompas, 28/04). Tingkat pengangguran yang kian membengkak merupakan ketidakmampuan pemerintah dalam memenuhi kebutuhan lapangan kerja bagi masyarakatnya. Demikian juga di bidang kesehatan, masayarakat kecil masih mengalami kesulitan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang murah dan berkualitas.
Terlebih lagi di bidang pendidikan yang masih menyisakan sejumlah permasalahan yang seakan tak ada ujung pangkalnya. Gedung-gedung sekolah yang rusak dan tidak layak masih dengan mudah kita temui disetiap daerah, bahkan beberapa waktu yang lalu sebuah bangunan sekolah roboh dan ini tejadi di Kota Bandung yang notabene merupakan pusat pemerintahan Jabar. Hal lain yang menyangkut pendidikan adalah ketercapaian indeks pendidikan di Jawa Barat pun yang belum optimal. Berdasarkan data Bapeda dan BPS Provinsi Jawa Barat tahun 2003-2006 realisasi indeks pendidikan masih dua point dibawah target.
Angka partisipasi sekolah di Jabar pun masih rendah. Pada tahun 2007 dari 10,12 juta penduduk usia sekolah, hanya 78,2 persen yang mengenyam pendidikan sedangkan sisanya belum terjangkau oleh pendidikan. Partisipasi sekolah untuk tingkat menengah merupakan yang paling rendah yakni hanya 39,42 % dari 2,4 juta penduduk usia 16-18 tahun. Faktor utama rendahnya angka partisipasi sekolah menengah karena mereka lebih memilih bekerja untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga dari bersekolah. Tahun 2007 di Jabar tercatat hampir 2 juta tingkat SLTA dan SLTP (kompas, 25/03). Indikator lain yang menunjukan bahwa pendidikan belum menjadi perhatian utama pemerintah Jawa Barat saat ini adalah belum terpenuhinya alokasi 20% dari APBD.
Kemenangan pasangan Hade juga dapat disimpulkan bahwa masyarakat menginginkan perubahan yang signifikan terhadap tingkat kesejahteraanya. Yang selama ini tidak mereka dapatkan dari pemerintah sebelumnya. Mereka juga beranggapan pembaharuan dan harapan baru yang dicita-citakan masyarakat hanya dapat tecapai oleh pemimpin yang baru. Pemimpin baru tentu sangat dekat asosiasinya dengan pasangan Hade mengingat dua calon lainnya merupakan Incumbent. Pemimpin baru mempunyai kelebihan karena mereka belum terbebani oleh kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan pada saat memerintah atau dengan kata memiliki track record yang bersih. Sehingga dalam mengeluarkan kebijakan yag berpihak pada rakyat kecil pun tidak akan ragu-ragu lagi.
Saat ini masayarakat mulai kritis dan menyadari, bahwa selama ini hanya dijadikan sebagai objek demokrasi oleh parpol-parpol besar. Hanya dibutuhkan ketika menjelang pilkada atau pemilihan umum. Setelah itu kembali masyarakat di campakan, ibarat kacang lupa kulitnya. Sehingga masyarakat mulai tertarik pada parpol kecil yang terlihat komitmen dalam memperjuangkan nasib rakyat dan terkesan bersih. Masyarakat sudah mengalami kejenuhan terhadap janji-janji yang berikan. Sementara dari hari ke hari tetap saja tidak ada perubahan yang berarti dalam kehidupannya. Lapangan kerja masih sulit harga barang yang terus melonjak tak terkendali adalah realitas yang dekat dan dirasakan masyarakat selama ini.
Kekecewaan masyarakat terhadap pemerintahan statusquo juga ditunjukan dengan turunnya partisipasi pemilih dalam Pilgub Jabar. Masih berdasarkan hasil perhitungan litbang Kompas , partisipasi pemilih pilgub Jabar hanya mencapai 65 persen. Jauh dibandingkan dengan partisipasi pemilu legislatif 2004 dan pemilu 1999 yang mencapai angka masing-masing 80 dan 90 persen. Ini juga pertanda yang perlu diwaspadai ketika masyarakat mulai apatis dalam setiap penyelnggaraan pesta demokrasi.
Faktor lain yang menjadi menyumbangkan kemenangan bagi pasangan Hade adalah usia dari para calon yang relatif masih muda dibandingkan dengan para calon lainnya. Usia yang muda menyiratkan adanya semangat dan idealisme yang kuat dibandingkan yang lebih tua dalam membangun daerah dan masyarakatnya. Apalagi rekam jejak mereka yang muda masih relatif bersih. Sehingga tidak akan sungkan-sungkan lagi dalam memberantas korupsi dan membangun citra birokrasi yang bersih.
Kemenangan Hade juga setidaknya dapat dijadikan introspeksi bagi calon incumbent dan partai-partai politik dalam memberikan pembelajaran politik bagi rakyatnya. Kemenangan Hade bukanlah kemenangan PKS ataupun PAN melainkan kemenangan seluruh masyarakat Jawa Barat. Mudah-mudahan Hade dapat membawa perubahan kearah yang lebih baik bagi masyarakat Jawa Barat umumnya dan masyarakat Cirebon pada khususnya. Sehingga pantura tidak lagi merasa menjadi anak tiri Jawa Barat.
Penulis adalah Peminat Masalah Sosial Politik.
(Tulisan ini telah dimuat pada Harian Mitra Dialog, 24 April 2008)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar