
Oleh : Indra Yusuf*
Hari Air Sedunia (HAS) atau World Water Day diperingati umat manusia diseluruh dunia setiap tanggal 22 Maret. HAS merupakan bagian dari rangkaian peringatan hari lainnya yang bertema lingkungan juga, seperti Hari Kehutanan dan Hari Meteorologi Sedunia yang masing-masing jatuh pada tanggal 20 dan 21 Maret. Peringatan HAS sendiri mulai di peringati sejak tahun 1993 berdasarkan Resolusi Nomor 147/1993 melalui Sidang Umum PBB ke 47 tanggal 22 Desember 1992. Awalnya peringatan HAS dimaksudkan sebagai wahana untuk memperbarui tekad dalam melaksanakan Agenda 21 yang dicetuskan pada tahun 1992 dalam United Nations Conference on Environment and Development (UNCED) yang diselenggarakan di Rio de Janeiro, atau dikenal sebagai Earth Summit (KTT Bumi). Peringatan hari-hari lingkungan ini tentunya dimaksudkan untuk menanamkan kesadaran dan kepedulian manusia diseluruh muka bumi akan pentingnya menjaga kelestariaan lingkungan termasuk menekan pemanfaatan yang berlebihan terhadap sumber daya air dan sumberdaya hutan yang terjadi saat ini.
Tema yang diusung dalam peringatan “Hari Air Sedunia” setiap tahunnya berbeda-beda. Pilihan tema disesuaikan dengan perkembangan dan kondisi yang terjadi serta langkah apa yang akan ditempuh dalam menghadapi persoalan yang ada. Disamping itu tentunya harapan-harapan yang ingin diwujudkan tentang kelestarian lingkungan dimasa mendatang. Untuk tahun ini tema peringatan HAS ke XVI yang diusung adalah “Tahun Sanitasi Internasional” (International Year of Sanitation). Kita ketahui seperti yang diutarakan pada peluncuran Tahun Sanitasi Internasional bahwa sanitasi menyangkut hal-hal sebagai berikut ; (i) Merupakan hal yang sangat vital bagi kesehatan ; (ii) salah satu faktor penggerak pertumbuhan ekonomi; (iii) Berkontribusi besar bagi pengembangan masyarakat; (iv) Membantu terhadap perbaikan lingkungan; (v) Peningkatan akses sanitasi adalah sebuah keberhasilan atau prestasi. Kita juga mengetahui sejak pertumbuhan penduduk dunia yang makin pesat ditambah lagi dengan laju urbanisasi yang tak terkendali telah menyebabkan munculnya pemukiman-pemukiman kumuh (Slum Area) terutama dilingkungan perkotaan. Hal ini banyak terjadi terutama pada negara-negara berkembang di dunia termasuk Indonesia. Pada lingkungan slum area seperti ini persoalan sanitasi seringkali terabaikan. Kemiskinan seringkali menjadi alasan utama penyebab buruknya sanitasi lingkungan. Menurut Menteri Pekerjaan Umum, Djoko Kirmanto hanya 69% saja masyarakat Indonesia yang memiliki akses pelayanan sanitasi. Sanitasi yang buruk membuat munculnya berbagai macam bibit penyakit sehingga bermuara pada menurunnya tingkat kesehatan masyarakat.
Sementara beberapa tema HAS lima tahun ke belakang diantaranya adalah ; Air untuk Masa Depan (2003), Air dan Bencana (2004), Air untuk Kehidupan (2005), Air dan Budaya (2006) dan Mengatasi Kelangkaan Air (2007). Memang selama lima tahun kebelakang sampai dengan saat ini, isu penting yang sering kita dengar dan rasakan adalaah persoalan air lebih banyak menjadi sumber terjadinya berbagai bencana alam maupun lingkungan seperti banjir, tanah longsor, tsunami dan kekeringan. Isu-isu penting lainya yang mengemuka saat memperingati HAS diantaranya adalah : promosi kesehatan, fasilitas sanitasi, kualitas air, penanganan limbah, drainase perkotaan, kebijakan dan kerangka kerja kelembagaan serta sistem informasi sanitasi internasional.
Tanpa kita sadari air yang merupakan sumber kehidupan di muka bumi sedang melakukan sedikit saja unjuk keberadaannya sebagai peringatan. Air membalasnya belum setimpal dengan apa yang kita perbuat. Dibanding manfaat yang telah diberikan air, bencana yang kita alami hanya sebagian kecil saja. Bencana-bencana tersebut sebenarnya datang dari diri manusia sendiri sehingga sudah tentunya bencana itu dapat kita hindari atau minimalisir seandainya distribusi air melalui siklus hidrologi tidak terganggu. Siklus air atau hidrologi akan terganggu jika kondisi lingkungan buruk sebaliknya jika kondisi lingkungannya baik siklus air dapat berjalan dengan baik. Siklus air yang berjalan dengan baik akan menghindari terjadinya bencan yang terkait langsung dengan air itu sendiri. Siklus hidrologi yang baik ditunjukan dengan banyaknya air hujan yang meresap kedalam tanah (infiltration). Namun sekarang ini air hujan yang jatuh lebih banyak menjadi air limpasan (Run of) sedangkan tubuh-tubuh air sudah tidak mampu lagi menampungnya karena telah terjadi pendangkalan oleh sampah yang telah menumpuk sehingga menimbulkan banjir. Demikian juga dengan lereng-lereng gunung yang sudah tidak mampu menyimpan air karena telah digunduli sehingga menyebabkan terjadinya tanah longsor.
Kita memahami betul jika musim hujan datang masyarakat cemas karena bencana banjir dan tanah longsor siap mengintai. Sementara jika musim kemarau, kesulitan air dikalangan petani khususnya akan merebak dan gagal panen pun mengancam. Hal itu menunjukan adanya ketimpangan neraca air (water balance). Seandainya kita mampu “menabung” air ketika musim tentunya bencana-bencana lingkungan tersebut dapat teratasi. Perilaku yang ada sekarang adalah kita tidak pandai menabung air ketika musim hujan dan kita pandai menghamburkan air bersih dalam kehidupan sehari-hari. Mencuci kendaaraan, menyiram tanaman dengan air ledeng dan membiarkan keran kita bocor atau tidak rapat menutup kran merupakan contoh perilaku boros terhadap penggunaan air bersih.
Semua perilaku tersebut merupakan buah dari gagalnya pendidikan lingkungan di keluarga, sekolah dan masyarakat. Tak perlu kita saling menyalahkan, karena memang kita semua turut andil dalam keslahan itu. Tapi tentu kesalahan yang lebih besar berada pada masing-masing peranannya. Kesalahan seorang pejabat terletak pada mengapa dengan kekuasaanya tidak mampu menjaga kelestarian lingkungannya. Kerusakan hutan yang makin meluas, pembangunan pemukiman di daerah resapan air merupakan tanggung jawabnya. Kesalahan seorang guru adalah mengapa dengan pendidikanya tidak mampu melahirkan individu yang peduli terhadap lingkungan, melainkan melahirkan generasi yang masabodoh dengan persoalan lingkungan. Kesalahan kita sebagai anggota masyarakat adalah mengapa kita tidak mampu mengajak masayarakat untuk peduli terhadap lingkungan sekitar rumahnya, dengan membuang sampah pada tempat, membersihkan saluran air secara rutin.
Sebetulnya tidaklah terlalu penting mengetahui kapan waktunya peringatan hari-hari yang bertemakan lingkungan, melainkan yang lebih penting adalah sikap dan perilaku kita sehari-hari dalam menjaga lingkungan. Banyak hal kecil yang dapat kita lakukan namun mempunyai makna yang besar bagi kelestarian lingkungan. Berhemat dalam penggunaan air bersih, tidak membuang sampai ke sungai, gemar menanam pohon, adalah bentuk perilaku menjaga lingkungan. Lebih baik lagi jika kita membuat sumur resapan atau lubang biopori di kawasan permukiman.
Lain lagi bagi seorang guru geografi, dengan menjelaskan bagaimana terbentuknya setetes airtanah yang melalui proses panjang dan memakan waktu lama hingga puluhan tahun diharapkan dapat mengugugah anak didiknya untuk dapat berhemat akan penggunaan air bersih. Belum lagi bahwa airtanah yang paling banyak kita gunakan merupakan jumlah air dengan persentase paling kecil dari lapisan air (hidrosfer) yang ada dimuka bumi ini. Demikian juga bagi seorang penulis melalui tulisannya di media massa, peringatan HAS dapat dijadikan momentum mengkampanyekan atau mengajak masyarakat luas, pengusaha maupun para pemegang kebijakan untuk menggalang partisipasi dan menggali kesadaran dalam menjaga potensi-potensi sumberdaya air ada.
Hari Air Sedunia (HAS) atau World Water Day diperingati umat manusia diseluruh dunia setiap tanggal 22 Maret. HAS merupakan bagian dari rangkaian peringatan hari lainnya yang bertema lingkungan juga, seperti Hari Kehutanan dan Hari Meteorologi Sedunia yang masing-masing jatuh pada tanggal 20 dan 21 Maret. Peringatan HAS sendiri mulai di peringati sejak tahun 1993 berdasarkan Resolusi Nomor 147/1993 melalui Sidang Umum PBB ke 47 tanggal 22 Desember 1992. Awalnya peringatan HAS dimaksudkan sebagai wahana untuk memperbarui tekad dalam melaksanakan Agenda 21 yang dicetuskan pada tahun 1992 dalam United Nations Conference on Environment and Development (UNCED) yang diselenggarakan di Rio de Janeiro, atau dikenal sebagai Earth Summit (KTT Bumi). Peringatan hari-hari lingkungan ini tentunya dimaksudkan untuk menanamkan kesadaran dan kepedulian manusia diseluruh muka bumi akan pentingnya menjaga kelestariaan lingkungan termasuk menekan pemanfaatan yang berlebihan terhadap sumber daya air dan sumberdaya hutan yang terjadi saat ini.
Tema yang diusung dalam peringatan “Hari Air Sedunia” setiap tahunnya berbeda-beda. Pilihan tema disesuaikan dengan perkembangan dan kondisi yang terjadi serta langkah apa yang akan ditempuh dalam menghadapi persoalan yang ada. Disamping itu tentunya harapan-harapan yang ingin diwujudkan tentang kelestarian lingkungan dimasa mendatang. Untuk tahun ini tema peringatan HAS ke XVI yang diusung adalah “Tahun Sanitasi Internasional” (International Year of Sanitation). Kita ketahui seperti yang diutarakan pada peluncuran Tahun Sanitasi Internasional bahwa sanitasi menyangkut hal-hal sebagai berikut ; (i) Merupakan hal yang sangat vital bagi kesehatan ; (ii) salah satu faktor penggerak pertumbuhan ekonomi; (iii) Berkontribusi besar bagi pengembangan masyarakat; (iv) Membantu terhadap perbaikan lingkungan; (v) Peningkatan akses sanitasi adalah sebuah keberhasilan atau prestasi. Kita juga mengetahui sejak pertumbuhan penduduk dunia yang makin pesat ditambah lagi dengan laju urbanisasi yang tak terkendali telah menyebabkan munculnya pemukiman-pemukiman kumuh (Slum Area) terutama dilingkungan perkotaan. Hal ini banyak terjadi terutama pada negara-negara berkembang di dunia termasuk Indonesia. Pada lingkungan slum area seperti ini persoalan sanitasi seringkali terabaikan. Kemiskinan seringkali menjadi alasan utama penyebab buruknya sanitasi lingkungan. Menurut Menteri Pekerjaan Umum, Djoko Kirmanto hanya 69% saja masyarakat Indonesia yang memiliki akses pelayanan sanitasi. Sanitasi yang buruk membuat munculnya berbagai macam bibit penyakit sehingga bermuara pada menurunnya tingkat kesehatan masyarakat.
Sementara beberapa tema HAS lima tahun ke belakang diantaranya adalah ; Air untuk Masa Depan (2003), Air dan Bencana (2004), Air untuk Kehidupan (2005), Air dan Budaya (2006) dan Mengatasi Kelangkaan Air (2007). Memang selama lima tahun kebelakang sampai dengan saat ini, isu penting yang sering kita dengar dan rasakan adalaah persoalan air lebih banyak menjadi sumber terjadinya berbagai bencana alam maupun lingkungan seperti banjir, tanah longsor, tsunami dan kekeringan. Isu-isu penting lainya yang mengemuka saat memperingati HAS diantaranya adalah : promosi kesehatan, fasilitas sanitasi, kualitas air, penanganan limbah, drainase perkotaan, kebijakan dan kerangka kerja kelembagaan serta sistem informasi sanitasi internasional.
Tanpa kita sadari air yang merupakan sumber kehidupan di muka bumi sedang melakukan sedikit saja unjuk keberadaannya sebagai peringatan. Air membalasnya belum setimpal dengan apa yang kita perbuat. Dibanding manfaat yang telah diberikan air, bencana yang kita alami hanya sebagian kecil saja. Bencana-bencana tersebut sebenarnya datang dari diri manusia sendiri sehingga sudah tentunya bencana itu dapat kita hindari atau minimalisir seandainya distribusi air melalui siklus hidrologi tidak terganggu. Siklus air atau hidrologi akan terganggu jika kondisi lingkungan buruk sebaliknya jika kondisi lingkungannya baik siklus air dapat berjalan dengan baik. Siklus air yang berjalan dengan baik akan menghindari terjadinya bencan yang terkait langsung dengan air itu sendiri. Siklus hidrologi yang baik ditunjukan dengan banyaknya air hujan yang meresap kedalam tanah (infiltration). Namun sekarang ini air hujan yang jatuh lebih banyak menjadi air limpasan (Run of) sedangkan tubuh-tubuh air sudah tidak mampu lagi menampungnya karena telah terjadi pendangkalan oleh sampah yang telah menumpuk sehingga menimbulkan banjir. Demikian juga dengan lereng-lereng gunung yang sudah tidak mampu menyimpan air karena telah digunduli sehingga menyebabkan terjadinya tanah longsor.
Kita memahami betul jika musim hujan datang masyarakat cemas karena bencana banjir dan tanah longsor siap mengintai. Sementara jika musim kemarau, kesulitan air dikalangan petani khususnya akan merebak dan gagal panen pun mengancam. Hal itu menunjukan adanya ketimpangan neraca air (water balance). Seandainya kita mampu “menabung” air ketika musim tentunya bencana-bencana lingkungan tersebut dapat teratasi. Perilaku yang ada sekarang adalah kita tidak pandai menabung air ketika musim hujan dan kita pandai menghamburkan air bersih dalam kehidupan sehari-hari. Mencuci kendaaraan, menyiram tanaman dengan air ledeng dan membiarkan keran kita bocor atau tidak rapat menutup kran merupakan contoh perilaku boros terhadap penggunaan air bersih.
Semua perilaku tersebut merupakan buah dari gagalnya pendidikan lingkungan di keluarga, sekolah dan masyarakat. Tak perlu kita saling menyalahkan, karena memang kita semua turut andil dalam keslahan itu. Tapi tentu kesalahan yang lebih besar berada pada masing-masing peranannya. Kesalahan seorang pejabat terletak pada mengapa dengan kekuasaanya tidak mampu menjaga kelestarian lingkungannya. Kerusakan hutan yang makin meluas, pembangunan pemukiman di daerah resapan air merupakan tanggung jawabnya. Kesalahan seorang guru adalah mengapa dengan pendidikanya tidak mampu melahirkan individu yang peduli terhadap lingkungan, melainkan melahirkan generasi yang masabodoh dengan persoalan lingkungan. Kesalahan kita sebagai anggota masyarakat adalah mengapa kita tidak mampu mengajak masayarakat untuk peduli terhadap lingkungan sekitar rumahnya, dengan membuang sampah pada tempat, membersihkan saluran air secara rutin.
Sebetulnya tidaklah terlalu penting mengetahui kapan waktunya peringatan hari-hari yang bertemakan lingkungan, melainkan yang lebih penting adalah sikap dan perilaku kita sehari-hari dalam menjaga lingkungan. Banyak hal kecil yang dapat kita lakukan namun mempunyai makna yang besar bagi kelestarian lingkungan. Berhemat dalam penggunaan air bersih, tidak membuang sampai ke sungai, gemar menanam pohon, adalah bentuk perilaku menjaga lingkungan. Lebih baik lagi jika kita membuat sumur resapan atau lubang biopori di kawasan permukiman.
Lain lagi bagi seorang guru geografi, dengan menjelaskan bagaimana terbentuknya setetes airtanah yang melalui proses panjang dan memakan waktu lama hingga puluhan tahun diharapkan dapat mengugugah anak didiknya untuk dapat berhemat akan penggunaan air bersih. Belum lagi bahwa airtanah yang paling banyak kita gunakan merupakan jumlah air dengan persentase paling kecil dari lapisan air (hidrosfer) yang ada dimuka bumi ini. Demikian juga bagi seorang penulis melalui tulisannya di media massa, peringatan HAS dapat dijadikan momentum mengkampanyekan atau mengajak masyarakat luas, pengusaha maupun para pemegang kebijakan untuk menggalang partisipasi dan menggali kesadaran dalam menjaga potensi-potensi sumberdaya air ada.

1 komentar:
pak ini Adetia Octaviani
kelas XI IPA 2
assalammualaikum
pak komentar saya
sebaiknya kita semua
harus membudidayakan air bersih
dan hutan
dengan cara tidak membuang sampah sembarangan
kekali atau pun diselokan
karena sampah" itulah
yang dapat mencemari air
hal ini ditunjukan kepada masyarakat agar ingin
menjaga lingkungan
karena semuanya
dmi kebaikan kita semua
sekian komentar dari saya
semoga bermaaf.
wassalammualaikum
Posting Komentar