Oleh : Indra Yusuf
Remaja secara psikologis merupakan masa peralihan dari anak-anak menjadi dewasa, dalam bahasa latin kata remaja sendiri berasal dari kata adolescere yang berarti to grow maturity. Secara kognitif pada masa remaja terjadi perkembangan dan perubahan kemampuan mental seperti belajar, memori, menalar, berpikir, dan bahasa. Ahli psikologi mengemukakan bahwa pada masa remaja terjadi kematangan kognitif, yaitu interaksi dari struktur otak yang telah sempurna dan lingkungan sosial yang semakin luas untuk eksperimentasi memungkinkan remaja untuk berpikir abstrak.
Pada usia remaja inilah berkembang sifat, sikap dan perilaku yang selalu ingin tahu, ingin merasakan dan ingin mencoba. Tentu apabila tidak segera difasilitasi atau diarahkan rasa keingintahuannya bukan tidak mungkin akan salah arah dan berdampak negatif. Sekarang ini kita banyak sekali menemui para remaja yang sudah merokok, bahkan terjerat narkoba dan ini semua berawal dari rasa ingin tahu atau coba-coba. Beberapa contoh lain tidak terpenuhinya kebutuhan psikologis pada remaja diwujudkan dengan perilaku menyimpang. Sebut saja kasus geng motor yang baru-baru ini marak terjadi diberbagai daerah dan penyimpangan perilaku seks yang terjadi pada remaja yang masih belia.
Sebenarnya rasa keingintahuan dan perilaku coba-coba pada para remaja (baca: siswa) merupakan potensi sekaligus sebagai modal dasar dalam mengembangkan kebiasaan berpikir ilmiah, kritis dan sistematis. Lantas bagaimana upaya kita menyalurkan rasa keingintahuan para remaja ? Salah satu media untuk menyalurkan dan menumbuhkembangkan rasa keingintahuan siswa adalah melalui ekskul Karya Ilmiah Remaja (KIR). KIR atau Youth Science Club pada awalnya dibentuk oleh UNESCO pada tahun 1963 untuk remaja yang berusia 12-18 tahun. Unesco (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) sendiri adalah organisasi pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan PBB yang bermarkas di Paris. Selanjutnya atas prakarsa LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) Youth Science Club disesuaikan namanya menjadi Kelompok Imiah Remaja.
Saat ini KIR merupakan salah satu kegiatan ekstrakurikuler di sekolah yang pada umumnya masih belum begitu banyak diminati siswa. Kadang KIR itu ada disekolah namun tidak nampak kegiatannya atau sering mengalami kevakuman alias mati suri. Lain halnya dengan Kegiatan Ekskul lainya yang pada umumnya lebih banyak digemari remaja seperti Paskibra, PMR, Pramuka, Marching Band, beladiri, Basket dan ekskul olahraga lainnya.
Keberadaan KIR disetiap sekolah pun dirasakan masih sangat jarang, apalagi bagi sekolah-sekolah yang terdapat di luar kota. Kegiatan KIR di sekolah pada umumnya dilaksanakan menjelang kegiataan lomba atau momen tertentu yang akan diikuti sekolah. Seolah-olah kegiatan KIR adalah hanya mengikuti lomba-lomba saja sehingga kegiatan hanya berupa pemantapan atau pengayaan materi pelajaran saja. Tentu saja KIR sebagai wadah pengembangan kreativitas siswa tidak akan bisa terlaksana apalagi sebagai pengenalan secara dini kepada para siswa.
Kenapa para siswa perlu dikenalkan secara dini pada kegiatan ilmiah atau penelitian. ? Tentu dengan mengenalkan secara dini tentang kegiatan penelitian atau metode ilmiah dapat ; merangsang cara berpikir kritis, melatih pola berpikir teratur (sistematis), serta meningkatkan kepekaan atau kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Penelitian ilmiah dan penulisan karya ilmiah dapat menjadi pilihan kegiatan yang menarik bagi remaja. Ketertarikan para remaja terhadap masalah-masalah yang timbul lingkungan sekitar merupakan bentuk perilaku yang sangat positif dan dibutuhkan bagi anggota KIR. Tak jarang dari rasa keingintahuan lahirlah sebuah karya besar yang bermanfaat bagi masyarakat.
Berpikir cerdas, kritis, objektif dan sistematis, serta peka terhadap lingkungan sekitar merupakan syarat yang sangat dibutuhkan bagi seorang calon peneliti. Oleh karena itu KIR membawa misi untuk membentuk remaja yang memiliki kompetensi sebagai seorang peneliti. Kenapa semua itu diperlukan bagi para remaja ? Karena bagaimanapun remaja adalah adalah investasi penting bagi bangsa.
Sebelum kita mengenalkan KIR kepada siswa kita harus meluruskan beberapa kesan dan pandangan yang keliru terhadap ekskul KIR, seperti : “melulu” IPA, hanya untuk siswa pintar, tidak menyenangkan, menambah beban dan tidak bermanfaat, selalu memerlukan biaya yang tinggi. Semua pandangan itu tentu sama sekali keliru. Kegiatan KIR yang sebenarnya adalah bukan hanya monopoli kegiatan anak IPA. Karena semua hal yang disekitar kita dapat dijadikan objek penelitian. Contoh fenomena sosial di sekitar kita yang dapat dijadikan topik atau objek penelitian adalah mengapa kebiasaan nyontek siswa sulit di hilangkan, Bagaimana hubungan nilai UN ketika SMP dengan prestasi yang dicapai ketika SMA, dan masih banyak lagi persolan yang ada disekitar kita yang dapat kita angkat menjadi tema penelitian kita.
Sekali lagi KIR tidak hanya ditujukan bagi mereka (siswa) yang pandai atau mendapat ranking dikelasnya saja. KIR juga tidak terfokus pada salah satu mata pelajaran, sehingga pembina KIR dapat berlatarbelakang mata pelajaran apa saja baik rumpun ilmu alam maupun sosial. Yang jelas pembina KIR harus memiliki motivasi yang kuat. Selain harus memiliki pengetahuan yang memadai.tentang metodelogi penelitian dari berbagai bidang ilmu.
KIR dapat diikuti oleh semua sisa yang terpenting adalah kemauan dan keuletan. Tentu kita masih ingat dengan multiple intelegence, setiap siswa tentu memiliki kecerdasan yang berbeda-beda sesuai dengan potensinya, dan itu semua perlu digali dan dikembangkan. KIR juga bukanlah kegiatan yang selalu super serius hingga siswa lekas mengalami kejenuhan. Tetapi kegiatan KIR penuh dengan inovasi dan kreatifitas yang dapat menciptakan suasana yang enjoy bagi para siswa.
(Artikel ini pernah dimuat pada Harian Republika, 27 Februari 2008)
Remaja secara psikologis merupakan masa peralihan dari anak-anak menjadi dewasa, dalam bahasa latin kata remaja sendiri berasal dari kata adolescere yang berarti to grow maturity. Secara kognitif pada masa remaja terjadi perkembangan dan perubahan kemampuan mental seperti belajar, memori, menalar, berpikir, dan bahasa. Ahli psikologi mengemukakan bahwa pada masa remaja terjadi kematangan kognitif, yaitu interaksi dari struktur otak yang telah sempurna dan lingkungan sosial yang semakin luas untuk eksperimentasi memungkinkan remaja untuk berpikir abstrak.
Pada usia remaja inilah berkembang sifat, sikap dan perilaku yang selalu ingin tahu, ingin merasakan dan ingin mencoba. Tentu apabila tidak segera difasilitasi atau diarahkan rasa keingintahuannya bukan tidak mungkin akan salah arah dan berdampak negatif. Sekarang ini kita banyak sekali menemui para remaja yang sudah merokok, bahkan terjerat narkoba dan ini semua berawal dari rasa ingin tahu atau coba-coba. Beberapa contoh lain tidak terpenuhinya kebutuhan psikologis pada remaja diwujudkan dengan perilaku menyimpang. Sebut saja kasus geng motor yang baru-baru ini marak terjadi diberbagai daerah dan penyimpangan perilaku seks yang terjadi pada remaja yang masih belia.
Sebenarnya rasa keingintahuan dan perilaku coba-coba pada para remaja (baca: siswa) merupakan potensi sekaligus sebagai modal dasar dalam mengembangkan kebiasaan berpikir ilmiah, kritis dan sistematis. Lantas bagaimana upaya kita menyalurkan rasa keingintahuan para remaja ? Salah satu media untuk menyalurkan dan menumbuhkembangkan rasa keingintahuan siswa adalah melalui ekskul Karya Ilmiah Remaja (KIR). KIR atau Youth Science Club pada awalnya dibentuk oleh UNESCO pada tahun 1963 untuk remaja yang berusia 12-18 tahun. Unesco (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) sendiri adalah organisasi pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan PBB yang bermarkas di Paris. Selanjutnya atas prakarsa LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) Youth Science Club disesuaikan namanya menjadi Kelompok Imiah Remaja.
Saat ini KIR merupakan salah satu kegiatan ekstrakurikuler di sekolah yang pada umumnya masih belum begitu banyak diminati siswa. Kadang KIR itu ada disekolah namun tidak nampak kegiatannya atau sering mengalami kevakuman alias mati suri. Lain halnya dengan Kegiatan Ekskul lainya yang pada umumnya lebih banyak digemari remaja seperti Paskibra, PMR, Pramuka, Marching Band, beladiri, Basket dan ekskul olahraga lainnya.
Keberadaan KIR disetiap sekolah pun dirasakan masih sangat jarang, apalagi bagi sekolah-sekolah yang terdapat di luar kota. Kegiatan KIR di sekolah pada umumnya dilaksanakan menjelang kegiataan lomba atau momen tertentu yang akan diikuti sekolah. Seolah-olah kegiatan KIR adalah hanya mengikuti lomba-lomba saja sehingga kegiatan hanya berupa pemantapan atau pengayaan materi pelajaran saja. Tentu saja KIR sebagai wadah pengembangan kreativitas siswa tidak akan bisa terlaksana apalagi sebagai pengenalan secara dini kepada para siswa.
Kenapa para siswa perlu dikenalkan secara dini pada kegiatan ilmiah atau penelitian. ? Tentu dengan mengenalkan secara dini tentang kegiatan penelitian atau metode ilmiah dapat ; merangsang cara berpikir kritis, melatih pola berpikir teratur (sistematis), serta meningkatkan kepekaan atau kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Penelitian ilmiah dan penulisan karya ilmiah dapat menjadi pilihan kegiatan yang menarik bagi remaja. Ketertarikan para remaja terhadap masalah-masalah yang timbul lingkungan sekitar merupakan bentuk perilaku yang sangat positif dan dibutuhkan bagi anggota KIR. Tak jarang dari rasa keingintahuan lahirlah sebuah karya besar yang bermanfaat bagi masyarakat.
Berpikir cerdas, kritis, objektif dan sistematis, serta peka terhadap lingkungan sekitar merupakan syarat yang sangat dibutuhkan bagi seorang calon peneliti. Oleh karena itu KIR membawa misi untuk membentuk remaja yang memiliki kompetensi sebagai seorang peneliti. Kenapa semua itu diperlukan bagi para remaja ? Karena bagaimanapun remaja adalah adalah investasi penting bagi bangsa.
Sebelum kita mengenalkan KIR kepada siswa kita harus meluruskan beberapa kesan dan pandangan yang keliru terhadap ekskul KIR, seperti : “melulu” IPA, hanya untuk siswa pintar, tidak menyenangkan, menambah beban dan tidak bermanfaat, selalu memerlukan biaya yang tinggi. Semua pandangan itu tentu sama sekali keliru. Kegiatan KIR yang sebenarnya adalah bukan hanya monopoli kegiatan anak IPA. Karena semua hal yang disekitar kita dapat dijadikan objek penelitian. Contoh fenomena sosial di sekitar kita yang dapat dijadikan topik atau objek penelitian adalah mengapa kebiasaan nyontek siswa sulit di hilangkan, Bagaimana hubungan nilai UN ketika SMP dengan prestasi yang dicapai ketika SMA, dan masih banyak lagi persolan yang ada disekitar kita yang dapat kita angkat menjadi tema penelitian kita.
Sekali lagi KIR tidak hanya ditujukan bagi mereka (siswa) yang pandai atau mendapat ranking dikelasnya saja. KIR juga tidak terfokus pada salah satu mata pelajaran, sehingga pembina KIR dapat berlatarbelakang mata pelajaran apa saja baik rumpun ilmu alam maupun sosial. Yang jelas pembina KIR harus memiliki motivasi yang kuat. Selain harus memiliki pengetahuan yang memadai.tentang metodelogi penelitian dari berbagai bidang ilmu.
KIR dapat diikuti oleh semua sisa yang terpenting adalah kemauan dan keuletan. Tentu kita masih ingat dengan multiple intelegence, setiap siswa tentu memiliki kecerdasan yang berbeda-beda sesuai dengan potensinya, dan itu semua perlu digali dan dikembangkan. KIR juga bukanlah kegiatan yang selalu super serius hingga siswa lekas mengalami kejenuhan. Tetapi kegiatan KIR penuh dengan inovasi dan kreatifitas yang dapat menciptakan suasana yang enjoy bagi para siswa.
(Artikel ini pernah dimuat pada Harian Republika, 27 Februari 2008)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar