
Oleh: Indra Yusuf
Beberapa waktu yang lalu adik-adik yang tinggal di Bandung dan daerah sekitarnya mungkin mengalami peristiwa hujan es. Bahkan diantara adik-adik mungkin ada yang sempat bermain-main dengan memunguti butiran es yang jatuh dari langit. Atau mungkin juga hujan es yang disertai angin kencang tersebut telah membuat atap rumah dan sekolahmu menjadi rusak atau bocor. Sehingga kegiatan belajar disekolah menjadi terganggu. Ternyata hujan es tidak hanya terjadi dibandung tapi juga terjadi di alami oleh adik-adik yang tinggal di daerah Bekasi dan Salatiga.
Tentu adik-adik juga bertanya-tanya mengapa bisa terjadi hujan es. Bukankah hujan yang turun biasanya berupa air tapi kali ini bukan, melainkan berupa butiran es yang besarnya lebih kecil dari ukuran kelereng atau sekitar satu sentimeter kubik. Menurut ilmu meteorologi dan klimatologi, yakni ilmu yang mempelajari cuaca dan iklim butiran-butiran es yang jatuh itu disebutnya hail stone.
Sementara bagi adik-adik yang duduk di SMP dan telah mempelajari ilmu itu melalui mata pelajaran geografi, tentu akan timbul pertanyaan mengapa di Indonesia yang mempunyai iklim tropis kok bisa terjadi hujan es? Padahal hujan es atau salju bukannya hanya terjadi pada wilayah yang mempunyai empat musim atau beriklim sedang dan subtropis ? Sedangkan wilayah Indonesia beriklim tropis. Hal itu juga sempat ditanyakan oleh Ferry Gunawan dan teman-temanya siswa-siswi SMP Negeri 11 Cirebon ketika melihat berita tentang kejadian hujan es di Bandung beberapa waktu lalu malalui layar televisi.
Sebetulnya hujan es berbeda dengan hujan salju. Es bentuknya merupakan butir-butiran yang lebih besar dari salju, karena salju merupakan kristal-kristal es yang sangat kecil. Kristal-kristal salju satu sama lain memiliki bentuk yang berbeda-beda seperti halnya dengan sidik jarimu. Salju pun terbentuk disebabkan oleh beberapa faktor. Selain karena faktor iklim salju jaga dapat terbentuk pada daerah yang memiliki ketinggian lebih dari 5000 meter diatas permukaan laut (dpl). Sebagai contoh walaupun berada di iklim tropis namun Puncak Jayawijaya di Papua memiliki salju abadi.
Sementara hujan es merupakan kejadian yang biasa sekalipun di daerah tropis, namun memang jarang terjadi. Sehingga ketika terjadi hujan es tidak sedikit masyarakat yang mengalami kepanikan. Terlebih lagi jika disertai oleh angin kencang dan hujan yang lebat. Namun sebenarnya tidaklah perlu terlalu khawatirkan atau menjadi panik ketika terjadi hujan es terjadi. Yang perlu kita lakukan ketika terjadi hujan es, hujan lebat disertai angin kencang dan petir adalah: (1) menghindari berteduh di bawah papan reklame atau pohon-pohon yang sudah terlihat rapuh (2) menebang pohon disekitar kita jika terlihat sudah tua (3) jika hujan disertai petir janganlah kita berada ditempat yang lapang.
Fenomena hujan es ini merupakan salah satu gejala cuaca yang wajar. Biasanya terjadi pada masa pancaroba. Yakni merupakan masa peralihan dari musim hujan ke musim kemarau, atau sebaliknya. Hujan es sendiri pada awalnya ditandai dengan terbentuknya awan cumulonimbus. Awan ini bentuknya menggumpal atau seperti bunga kol dengan warna hitam atau gelap. Berdasarkan ciri-cirinya awan cumulonimbus ini merupakan awan rendah, namun memiliki puncak yang tinggi hingga mencapai 17 km. Karena awan yang begitu tinggi sehingga menyebabkan suhu diatas sana begitu dingin hinga mencapai -10 derajat celcius. Kemudian uap air yang terdapat di awan bergabung dengan kristal-kristal es. Sehingga krsital-kristal es tersebut bertambah besar hingga akhirnya jatuh ke bumi akibat pengaruh gravitasi bumi.
Hujan es juga dapat timbul akibat proses pengupan air yang sangat cepat. Sehingga menyebabkan tumbuhnya awan cumulonimbus. Sedangkan salju terbentuk di awan yang terbentang ke atas hingga mecapai udara yang membeku. Awan ini merupakan campuran dari kristal-kristal es dan butiran es yang sangat dingin. Butiran-butiran yang sangat dingin membeku dengan segera ketika bersentuhan dengan kristal-kristal es. Kemudian berkembang dan menempel ke kristal-kristal es yang lain.
Hujan es ini sendiri sulit untuk diramalkan sekalipun oleh BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika). Badan ini merupakan badan yang bertugas mengamati, meneliti dan mensosialisasikan hasil-hasil yang diketahuinya berkaitan dengan gejala cuaca-iklim dan gempa bumi kepada masyarakat luas. Cobalah adik-adik sesekali mengunjungi stasiun BMG bersama teman-teman dan Ibu/Bapak guru di Sekolah. Karena hampir disetiap daerah memiliki stasiun BMG, apalagi di kota besar. Disana kita dapat melihat berbagai jenis alat yang digunakan untuk mengukur suhu udara, kelembaban udara, tekanan udara, kecepatan angin dan juga curah hujan. Sehingga kita akan bertambah pengetahuannya mengenai cuaca, iklim maupun gemap bumi.
Karena masih banyak yang perlu diketahui mengenai pengetahuan tentang bumi kita, yang juga merupakan rumah kita. Seperti selain hujan es, sebetulnya masih ada kejadian lain yang menyangkut atmsofer pada saat musim pancaroba yaitu sering munculnya hujan lebat disertai petir, angin puting beliung, maupun badai. Oleh karena itu kita semua mesti waspada dalam menghadapi perubahan musim yang tidak menentu akibat perubahan iklim global.
Penulis adalah Guru Geografi, Menulis Buku Pendidikan Lingkungan Hidup untuk Sekolah Dasar, Tinggal di Kota Cirebon.
Beberapa waktu yang lalu adik-adik yang tinggal di Bandung dan daerah sekitarnya mungkin mengalami peristiwa hujan es. Bahkan diantara adik-adik mungkin ada yang sempat bermain-main dengan memunguti butiran es yang jatuh dari langit. Atau mungkin juga hujan es yang disertai angin kencang tersebut telah membuat atap rumah dan sekolahmu menjadi rusak atau bocor. Sehingga kegiatan belajar disekolah menjadi terganggu. Ternyata hujan es tidak hanya terjadi dibandung tapi juga terjadi di alami oleh adik-adik yang tinggal di daerah Bekasi dan Salatiga.
Tentu adik-adik juga bertanya-tanya mengapa bisa terjadi hujan es. Bukankah hujan yang turun biasanya berupa air tapi kali ini bukan, melainkan berupa butiran es yang besarnya lebih kecil dari ukuran kelereng atau sekitar satu sentimeter kubik. Menurut ilmu meteorologi dan klimatologi, yakni ilmu yang mempelajari cuaca dan iklim butiran-butiran es yang jatuh itu disebutnya hail stone.
Sementara bagi adik-adik yang duduk di SMP dan telah mempelajari ilmu itu melalui mata pelajaran geografi, tentu akan timbul pertanyaan mengapa di Indonesia yang mempunyai iklim tropis kok bisa terjadi hujan es? Padahal hujan es atau salju bukannya hanya terjadi pada wilayah yang mempunyai empat musim atau beriklim sedang dan subtropis ? Sedangkan wilayah Indonesia beriklim tropis. Hal itu juga sempat ditanyakan oleh Ferry Gunawan dan teman-temanya siswa-siswi SMP Negeri 11 Cirebon ketika melihat berita tentang kejadian hujan es di Bandung beberapa waktu lalu malalui layar televisi.
Sebetulnya hujan es berbeda dengan hujan salju. Es bentuknya merupakan butir-butiran yang lebih besar dari salju, karena salju merupakan kristal-kristal es yang sangat kecil. Kristal-kristal salju satu sama lain memiliki bentuk yang berbeda-beda seperti halnya dengan sidik jarimu. Salju pun terbentuk disebabkan oleh beberapa faktor. Selain karena faktor iklim salju jaga dapat terbentuk pada daerah yang memiliki ketinggian lebih dari 5000 meter diatas permukaan laut (dpl). Sebagai contoh walaupun berada di iklim tropis namun Puncak Jayawijaya di Papua memiliki salju abadi.
Sementara hujan es merupakan kejadian yang biasa sekalipun di daerah tropis, namun memang jarang terjadi. Sehingga ketika terjadi hujan es tidak sedikit masyarakat yang mengalami kepanikan. Terlebih lagi jika disertai oleh angin kencang dan hujan yang lebat. Namun sebenarnya tidaklah perlu terlalu khawatirkan atau menjadi panik ketika terjadi hujan es terjadi. Yang perlu kita lakukan ketika terjadi hujan es, hujan lebat disertai angin kencang dan petir adalah: (1) menghindari berteduh di bawah papan reklame atau pohon-pohon yang sudah terlihat rapuh (2) menebang pohon disekitar kita jika terlihat sudah tua (3) jika hujan disertai petir janganlah kita berada ditempat yang lapang.
Fenomena hujan es ini merupakan salah satu gejala cuaca yang wajar. Biasanya terjadi pada masa pancaroba. Yakni merupakan masa peralihan dari musim hujan ke musim kemarau, atau sebaliknya. Hujan es sendiri pada awalnya ditandai dengan terbentuknya awan cumulonimbus. Awan ini bentuknya menggumpal atau seperti bunga kol dengan warna hitam atau gelap. Berdasarkan ciri-cirinya awan cumulonimbus ini merupakan awan rendah, namun memiliki puncak yang tinggi hingga mencapai 17 km. Karena awan yang begitu tinggi sehingga menyebabkan suhu diatas sana begitu dingin hinga mencapai -10 derajat celcius. Kemudian uap air yang terdapat di awan bergabung dengan kristal-kristal es. Sehingga krsital-kristal es tersebut bertambah besar hingga akhirnya jatuh ke bumi akibat pengaruh gravitasi bumi.
Hujan es juga dapat timbul akibat proses pengupan air yang sangat cepat. Sehingga menyebabkan tumbuhnya awan cumulonimbus. Sedangkan salju terbentuk di awan yang terbentang ke atas hingga mecapai udara yang membeku. Awan ini merupakan campuran dari kristal-kristal es dan butiran es yang sangat dingin. Butiran-butiran yang sangat dingin membeku dengan segera ketika bersentuhan dengan kristal-kristal es. Kemudian berkembang dan menempel ke kristal-kristal es yang lain.
Hujan es ini sendiri sulit untuk diramalkan sekalipun oleh BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika). Badan ini merupakan badan yang bertugas mengamati, meneliti dan mensosialisasikan hasil-hasil yang diketahuinya berkaitan dengan gejala cuaca-iklim dan gempa bumi kepada masyarakat luas. Cobalah adik-adik sesekali mengunjungi stasiun BMG bersama teman-teman dan Ibu/Bapak guru di Sekolah. Karena hampir disetiap daerah memiliki stasiun BMG, apalagi di kota besar. Disana kita dapat melihat berbagai jenis alat yang digunakan untuk mengukur suhu udara, kelembaban udara, tekanan udara, kecepatan angin dan juga curah hujan. Sehingga kita akan bertambah pengetahuannya mengenai cuaca, iklim maupun gemap bumi.
Karena masih banyak yang perlu diketahui mengenai pengetahuan tentang bumi kita, yang juga merupakan rumah kita. Seperti selain hujan es, sebetulnya masih ada kejadian lain yang menyangkut atmsofer pada saat musim pancaroba yaitu sering munculnya hujan lebat disertai petir, angin puting beliung, maupun badai. Oleh karena itu kita semua mesti waspada dalam menghadapi perubahan musim yang tidak menentu akibat perubahan iklim global.
Penulis adalah Guru Geografi, Menulis Buku Pendidikan Lingkungan Hidup untuk Sekolah Dasar, Tinggal di Kota Cirebon.

2 komentar:
trimakasih info nya, sangat membenatu saya untuk referensi
obat tradisional jelly gamat
Obat gondok
obat pengering luka jahitan
obat luka operasi
obat sering kencing
obat nyeri lutut
Posting Komentar